Gay Dan Striptise

>> Sabtu, 21 Februari 2009


Baru - baru ini aku mendapatkan SMS dari seorang teman. Setelah aku baca, ternyata ada undangan menghadiri acara. Sebuah acara dance disalah satu Cafe di Jakarta Pusat. Dance akan dilakukan oleh kelompok homoseksual dan biseksual. Acara ini diorganisir oleh salah satu LSM LGBTIQ di Jakarta.

Aku memutuskan hadir karena yang mengundang adalah teman baik ku. Selain itu aku juga apresiasi bagi penyelenggara acara tersebut. Karena melakukan pengorganisasian kelompok homoseksual tidak harus dalam konteks yang "berat - berat". Artinya memberikan pendidikan bagi teman - teman melalui pendekatan budaya (dalam hal ini dance misalnya). Walau aku sebenarnya agak kurang nyaman apabila harus hadir dalam acara - acara yang hingar bingar. Apalagi pub yang penuh dengan musik - musik keras.

Sudah beberapa kali aku datang ke sebuah acara gay khususnya di Pub. Memang sekarang ini di Jakarta sudah mulai banyak pub - pub yang khusus bagi kelompok gay. Dan aku selalu mendapatkan undangan dalam acara tersebut. Ada beberapa aku hadir dalam acara tersebut. Tapi sayang lagi - lagi aku masih belum begitu nyaman menghadiri acara - acara tersebut. Memang itu persoalan dalam diri ku sendiri. Walau aku tahu ini lah salah kehidupan gay di Jakarta.

Melalui pub teman - teman gay dapat saling berinteraksi satu sama lain. Kebebasan berexpresi yang tidak akan mungkin dilakukan dalam luar. Yang sangat homophobia. Sehingga tidak jarang didalam pub ada pasangan sejenis dengan nyamannya saling berciuman bibir. Ini bukan sesuatu yang aneh memang bagi kelompok heteroseksual. Tapi akan aneh bagi kelompok homoseksual. Mungkin juga dipub gay itu masih ada orang yang "risih' melihat pemandangan itu. Termasuk diri. Aku sadar bahwa pikiran ku masih belum "terbebaskan" dalam konteks budaya heteronormativitas.

Biasanya hingar bingar musik dan pesta alkohol menjadi wajah didalam ruangan pub tersebut. Mungkin ini bukan hanya terjadi dalam pub - pub gay saja. Tetapi juga terjadi dalam pub - pub umumnya. Jadi bukan soal gay atau tidak. Tapi inilah dunia pub.

Kemudian tidak jarang dalam acara tersebut ada kegiatan - kegiatan lainya. Seperti Fashion Show sampai pada dance - dance. Ada yang mempunyai pesan - pesan tertentu. Misalnya pesan pencegahan HIV dan AIDS. Tetapi tidak jarang hanya menampilkan keindahan tubuh laki - laki.

Memamerkan tubuh laki - laki putih dan berotot menjadi ciri khas pub? Tarian seprti Striptise laki - laki juga menjadi sajian hangat bagi para gay yang datang. Kalau dikalangan heteroseksual ditampilkan tubuh perempuan bergoyang - goyang diatas panggung. Sekarang ini tubuh laki - laki yang digambarkan macho bergoyang - goyang. Memang ini adalah fakta dan banyak diminati banyak orang. Lagi pula pengelola pub berpikir bagaimana mendapatkan banyak keuntungan dari kunjungan pendatang. Itu lah bisnis..

Kembali lagi pada cerita awalku. Bagaimana kalau acara itu dikelola oleh sebuah LSM yang secara tegas visi dan misi untuk memberikan pendidikan kritis. Apakah pola - pola memamerkan tubuh juga layak untuk ditampilkan?

Pada saat aku hadir aku berpikir bahwa acara ini akan berbeda dari acara yang dikelola oleh para kapitalis. Pemilik pub ingin mendapatkan keuntungan itu pasti. Tapi pengelola acara yang juga LSM mestinya tidak menggunakan segala cara untuk mengundang teman - teman hadir. Semestinya acara yang dirancang tetap mengedepankan nilai - nilai kemanuasiaan. Yang bebas dari ekploitasi tubuh.

Tapi harapan itu sama sekali tidak aku temukan dalam acara tersebut. Dari mulai dance modern sampai pameran model - model laki - laki yang menggunakan underware. Bahkan sampai membuka semua pakaian yang hanya terlihat underware saja. Sambil menunjukkan bentuk tubuh kepada pengunjung. Ikuti dengan peluk dan siraman minuman ibarat sedang berpesta minuman. Hanya dengan menggunakan Underware. Ini menjadi tontonan yang diberikan oleh pelaksana acara kepada para undangan.

Aku hanya berpikir apa yang sedang terjadi dengan kegiatan ini. Mengapa acara nya tidak ada bedanya dengan pub - pub gay yang dikelola oleh kelompok non ideologis. Mengapa tubuh masih saja menjadi nilai jual dalam kegiatan ini. Yang mestinya LSM mempunyai mandat untuk memberikan pendidikan kepada kelompok gay. Bahwa eksploitasi tubuh adalah bagian dari pelecehan seksual.

Dalam konteks ini tubuh dijadikan komoditi pertarungan syahwat. Pihak pengelola acara mengumbar tubuh untuk dijadikan alat mengundang pengunjung. Ini lah yang masih banyak digunakan kapitalis dalam menjual produknya. Dalam konteks heteroseksual, tubuh perempuan menjadi komoditi agresi seksual laki - laki. Begitu juga acara malam ini, maskulinitas masih diagungkan sebagai komoditi yang layak untuk "dijual".

LSM yang kerja untuk penegakan hak - hak asasi manusia harus lebih berhati - hati menampilkan acara. Harus dilihat apakah ini bagian dari ekploitasi tubuh atau merupakan ekpresi diri. Memang kalau tidak dilihat secara jeli akan sulit membedakan nya. Karena perbedaan itu sangat tipis. Setipis kulit ari. Tapi disini lah peran LSM dapat menentukan perbedaan itu.


Wasalam


Toyo

Read more...

Indah ODHA Perempuan Aceh

>> Minggu, 15 Februari 2009

Baru - baru ini pada tanggal 26 Januari 2009, aku pergi ke Banda Aceh. Aku datang untuk undangan salah satu LSM. Aku di minta menjadi narasumber soal perdamaian bagi perempuan.
Karena pada saat bersamaan juga dilakukan pelatihan HAM dan LGBTIQ di Banda Aceh. Pelaksananya adalah LSM Violet Grey kerjasama dengan Hivos Belanda.

Selain aku mengantarkan buku - buku kepada teman - teman LSM di Banda Aceh. Aku juga ada keinginan ketemu dengan Febri (teman ku yang sama - sama mendapatkan penyiksaan).

Memang malam harinya setelah sampai aku jadwalkan untuk ketemu dengan teman - teman peserta pelatihan. Sesampai ditempat pelatihan. Aku disambut dengan teman - teman sangat baik.
Ternyata pada saat itu tidak hanya teman - teman gay dan waria saja yang ada. Tetapi ada beberapa perempuan. Yang lainnya aku kenal perempuan itu. Temanku, Leila, Ayie dan Norma.
Iya mereka adalah aktivis perempuan di Aceh yang banyak membantu gerakan LGBTIQ di Banda Aceh.

Ada yang aku agak "lain". Aku melihat seorang perempuan hamil yang juga duduk dengan teman - teman peserta lainnya. Siapa perempaun ini, pikirku. Ketua Violet Grey memperkenalkan kepada ku sebagai kakak nya. Aku kemudian bertanya lagi karena kurang yakin atau mungkin heran. Karena hebat juga seorang kakak perempuan di Aceh menerima adiknya sebagai seorang gay. Tapi rupanya bukan kakak kandung tetapi kakak baik saja. Oh begitu.

Aku masih bingung dengan perempuan ini. Karena memang dia satu - satunya perempuan yang tidak aku kenal sebelumnya. Ada rasa bingung dan penarasan siapa sebenarnya perempuan ini.
Nama Indah (bukan nama sebenarnya). Indah mengenakan penutup kepala (seperti selendang). Badang agak kecil dan tinggi dengan kondisi hamil besar.

Setelah masuk ruangan pelatihan aku baru tahu bahwa Indah adalah perempuan dari Aceh, maksudnya lahir dan besar di Aceh. Dengan latar belakang ibu rumah tangga baik - baik layaknya istri - istri dikehidupan masyarakat Aceh. Aku heran dan kaget waktu ketemu perempuan itu. Indah menjadi salah satu peserta dalam pelatihan tersebut. Pada sesi saling menceritakan pengalaman masing - masing akhirnya aku tahu bahwa dia adalah perempuan ODHA di Aceh. Indah salah satu perempuan ODHA yang sudah menjadi survivor. Walau Indah menceritakan pengalaman nya sambil menangis dan mungkin terlalu berat untuk dapat dilupakan.

Ada banyak pelajaran yang aku dapatkan dari ceritanya tersebut. Bagaimana pedihnya dia sebagai perempuan ODHA di Aceh. Perempuan ini tertular dari suaminya yang juga seorang pecandu narkotika. Suami nya meninggal pada saat perempuan itu mengandung anak pertamanya.
Dari rumah sakit tempat suaminya dirawatlah diketahui bahwa suaminya positif HIV dan AIDS.

Berita itu bagi Indah ibarat kiamat, harus menerima kenyataan yang pahit. Suaminya akhirnya meninggalkan Indah untuk selamaya. Dan kemudian setelah dites, Indah juga positif HIV dan AIDS.

Pada saat detik - detik diakhir sebelum meninggal. Suaminya merasa bersalah menikahi Indah (istrinya). Karena seharusnya dia tidak menikahinya. Kamu perempuan baik - baik yang harus menanggung beban ini semua. Semua ini salah ku Indah, mungkin ini terlalu klise. Unkapan maaf yang sudah tidak akan merubah apapun dalam diri Indah pada saat itu.
Perasaan yang tidak sanggup diceritakan oleh Indah pada saat itu. Aku terdiam dan haru mendengar bagaimana berat nya kondisi Indah pada saat itu.

Awalnya Indah menyesali hidup nya dan marah sekali. Belum lagi sikap keluarga yang shock dengan kejadian itu. Seorang perempuan di Aceh yang sama sekali tidak tahu informasi HIV dan AIDS, mungkin sama sekali tidak terpikir soal penyakit itu. Tetapi kemudian harus menjadi bagian dari hidupnya sendiri. Virus yang bersarang dalam tubuh Indah sekarang.

Kemudian atas dukungan teman - teman di LSM di Medan. Indah mulai pelan - pelan bisa angkit. Tapi tidak berakhir mulus begitu saja.
Pada saat dia harus melakukan proses persalinan di Rumah Sakit. Dia juga harus mendapatkan perlakuan yang diskriminasi. Karena sebagian medis ada yang tidak mau membantu proses persalinannya itu. Perdebatan medis itu didengar oleh Indah sendiri. Ingin rasanya marah dengan almarhum suaminya. Ingin rasa mati saja. Karena Tuhan telah memberikan cobaan yang sama sekali Indah tidak lakukan. Sebuah penyakit yang bukan karena "kesalahan" dirinya.

Bagaimana perasaan Indah yang tidak dapat kita bayangkan. Kekerasan dan diskriminasi yang dialami oleh perempuan ini. Seorang perempuan di Aceh yang notabenenya adalah seorang "muslimah" harus mendapatkan perlakuan hina. Padahal pada saat itu kondisinya kritis untuk segera dilakukan operasi caesar. Proses persalinan akhirnya berjalan lancar walau harus melalui jalan panjang.

Perempuan itu menceritakan bagaimana hina dia pada saat itu. Tetapi untungnya Indah mendapatkan dukungan yang besar dari para teman - teman LSM AIDS di Medan. Ada berita gembira bahwa anak pertama nya negatif dari virus AIDS.

Singkat cerita dia menikah kembali dengan seorang laki - laki yang selalu memberikan dorongan kepada nya selama ini. Pada saat aku ketemu dengan perempuan ini. Suaminya juga menungguin Indah mengikuti pelatihan. Laki - laki itu selalu mendorong dirinya untuk selalu kuat. Suami Indah mengatakan kepada perempuan itu bahwa yang kamu lakukan bukan hanya bermanfaat bagi dirimu sendiri Indah.
Tapi berguna bagi semua perempuan di Aceh dan seluruh dunia. Kamu harus kuat ya, cerita Indah soal sosok suaminya itu. Semangat dan dorongan laki - laki itu yang membuat perempuan itu sampai sekarang masih tetap bertahan. Laki - laki itu sekarang telah menjadi ayah dari anak - anaknya.

Dengan dorongan itu lah, kemudian Idah kembali lagi ke Banda Aceh. Dia bergabung sebagai relawan di salah satu LSM yang selama ini membantunya. Kebetulan LSM itu mempunyai program di Banda Aceh yang juga fokus untuk isu HIV dan AIDS. Bersama - sama dengan LSM Violet Grey di Banda Aceh bekerja untuk pencegahan HIV dan AIDS di wilayah Aceh.

Sekarang Indah bersama perempuan - perempuan ODHA yang ada di Aceh membuat support groups. Dukungan sebaya bagi perempuan ODHA. Kita tahu bahwa para ODHA di Aceh sebagian adalah perempuan sebagai ibu rumah tangga. Yang katanya sama sekali bebas dari virus tersebut. Dan mungkin pengalaman nya akan lebih "seru" lagi untuk menjadi pembelajaran bagi kita semua. Kegiatan ini membuat Indah semakin lebih berarti dalam menjalani hidupnya.

Sekarang ini dia sedang mengandung anaknya yang kedua dari perkawinan keduanya. Banyak pelajaran yang bisa Indah terima dalam proses hidupnya. Salah satunya adalah bagaimana belajar untuk saling menghargai perbedaan. Misalnya selama ini dia adalah orang yang selalu menganggap rendah kelompok waria. Jika Indah ketemu dengan waria maka akan mengejeknya sambil menertawakan.

Itu sedikit cerita dari Indah sebagai perempuan Aceh yang ODHA. Indah juga telah menuliskan cerita - cerita teman - teman perempuan yang ODHA lainnya.
Ada keinginannya Indah untuk mendokumentasikan pengalaman - pengalaman perempuan itu dalam bentuk buku. Agar dapat memberikan gambaran situasi perempuan ODHA di Aceh.

Pengalaman Indah ini sebagai potret kecil dari kondisi perempuan di Aceh maupun di Indonesia.Dalam kondisi "normal" saja perempuan di marginalkan dan diskriminasikan. Belum lagi pada kondisi seperti Indah sekarang. Cap dan beban moral yang selalu diemban oleh perempuan membuat Indah dan teman - teman perempuan ODHA semakin termarginalkan. Belum lagi sampai sekarang masih banyak urusan ODHA berkaitan dengan moral. ODHA = tidak bermoral. Padahal kita bisa rasakan sendiri pengalaman perempuan Aceh ini, Indah...

Terus berjuang Indah,,,doa ku untuk mu dan keluarmu...


Wasalam


Toyo

Kalibata, 15 Feb 09

Read more...

Kami Punya Kasih Sayang

>> Rabu, 11 Februari 2009


Tanggal 14 Februari selalu dirayakan sebagai hari kasih sayang. Masyarakat dunia menjadikan hari itu sebagai bentuk ungkapan kasih kepada sesama. Tetapi perkembangan nya bukan hanya diungkapkan kasih sayang pada manusia saja. Ungkapan kasih sayang juga ditujukan kepada semua mahkluk ciptaan Tuhan. Tidak terkecuali kepada seorang pelacur.

Aku dalam hal tidak akan membahas sejarah mengapa tanggal tersebut sebagai hari kasih sayang. Karena ada banyak alasan, salah satunya adanya perbedaan versi dari sejarah itu sendiri. Hari kasih sayang bahkan selalu dilekatkan sebagai label budaya tertentu (Barat). Bahkan lebih ironisnya sebagai satu ajaran yang dibawa oleh agama Nasrani (Kristen). Sehingga tidak jarang kelompok non nasrani melakukan tindakan "resisten" terhadap perayaan Valentine (biasa disebut).
Terutama kelompok Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia. Tidak jarang sebagian masyarakat muslim meyakini bahwa merayakan Valentine adalah Haram. Atau minimal sangat tidak dianjurkan sekali. Seperti pengalaman penulis selama ini.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang merayakan valentine selalu diikuti dengan kegiatan - kegiatan yang merugikan diri sendiri. Misalnya pesta narkoba ataupun tindakan lain seperti menyerahkan keperawanan pada pacar laki - lakinya.Semua itu selalu dikaitkan atas nama kasih sayang.

Terlepas dari soal pro dan kontra hari kasih sayang tersebut.
Dalam konteks masyarakat kita (Indonesia). Kasih sayang dalam konteks pasangan manusia selalu sama dengan hubungan heteroseksual. Kelompok lain seperti gay dan Lesbian tidak akan pernah dilihat atas kasih sayang itu sendiri. Padahal kelompok homoseksual juga mempunyai makna sendiri dalam hal kasih sayang.

Tuduhan dan anggapan yang menimbulkan stigma itu masih terus dilontarkan oleh masyarakat, akademisi maupun tokoh agama. Menurut Adrianus Meliala (kriminolog UI, kelompok homoseksual dalam menjalin asmara, kaum homoseks tidak mengenal konsep belahan jiwa. Mereka hanya mengenal konsep pembagian peran yang permanen antara perempuan dan pria . Peran tersebut mereka jalankan sampai mereka (http://swaramuslim.com/galery/more.php?id=6040_0_18_0_m)

Belum tuduhan para akademisi itu semakin dikuatkan oleh para tokoh agama. Tokoh agama yang mestinya meyebarkan kasih sayang kepada semua manusia. Justru menjadi kelompok yang paling "buas" dengan mengunakan tafsir teks alkitab. Untuk meminggirkan kelompok homoseksual. Sejarah Sodom dan Gomorah (Kristen) atau sejarah Luth (Islam) menjadi justifikasi kuat untuk "menebarkan" kebencian kepada kelompok homoseksual tersebut.

Karena tafsir tokoh agama yang sangat partriaki dan heterosentris, dan akibatnya pandangan itu masih "ditakuti" atau diyakini sebagai kebenaran absolute. Agama dalam hal ini sudah kehilangan makna ajaran sebenarnya. Yaitu cinta kasih pada sesama. Pemahaman para tokoh agama ini semakin "dipercaya" oleh umatnya. Ruang kritik terhadap tafsir lain akan dikelompok golongan sesat. Terutama untuk tafsir soal homoseksual yang manusiawi. Padahal bicara soal tafsir ini salah satu bentuk akses kuasa yang sangat kuat dari kelompok tokoh agama terhadap tafsir teks alkitab.
Umat telah disistematiskan pada posisi yang lemah.

Pertanyaan nya benarkah hubungan homoseksual itu tidak mengenal konsep belahan jiwa?? atau tidak punya makna kasih dalam berelasi.

Penulis sebagai bagian dari kelompok gay, menjadi bertanya sendiri. Bukan kah aku suka dan sayang kepada laki - laki juga punya nilai. Aku juga tidak pernah mengerti dan paksakan untuk mencintai orang lain?? Walaupun kadang kita suka dan sayang kepada orang lain dapat dimulai dari tampilan luar. Tapi aku pikir ini juga terjadi pada kelompok heteroseksual maupun homoseksual.

Banyak pasangan gay yang hidup berpasangan bertahun - tahun. Walau harus menika satu sama lain. Karena ruang untuk mengungkapkan kasih sayang di publik bagi pasangan gay sama sekali tidak ada di Indonesia. Kelompok heteroseksual bebas diberikan kebebasan berpelukan, ciuman, bergandengan didepan umum. Begitu juga jalan menuju institusi perkawinan direstui oleh negara. Mau monogami maupun Poigami juga diakomodir oleh negara. Tapi itu semua tidak untuk kelompok homoseksual.

Bukan hanya tidak merestui kasih sayang sesama jenis. Bahkan hubungan kasih sayang itu juga layak dikelompokkan sebagai tindakan pelacuran dan zina. Sehingga dikelompokkan sebagai tindakan kriminal. Seperti pada peraturan daerah di Propinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang soal maksiat.

Sebuah kasih sayang tumbuh dalam diri seseorang itu secara "natural" dan sosial.Yang kadang aku dan teman gay sendiri tidak tahu darimana datang kasih sayang itu.
Apakah ini datang dari Tuhan atau ini hanya sebuah nafsu belaka??. Kalau ini hanya sebagai nafsu saja. Mengapa banyak pasangan gay atau lesbian tidak jarang menjalin hubungan tanpa mengutamakan hubungan badan. Pasangan itu rela berkorban satu sama lain seperti layaknya pasangan heteroseksual. Kasih sayang yang katanya datang dari Tuhan justru harus dihancurkan oleh tafsir - tafsir agama yang justru datang dari pikiran manusia. Dalam hal ini tafsir manusia menempatkan posisi lebih tinggi dari kasih sayang itu sendiri.

Sehingga tidak jarang ada banyak seorang gay harus melakukan tindakan penipuan publik. Tidak pernah jujur bahwa dirinya suka dengan sesama jenis. Bahkan tidak sedikit sebagian gay harus menikah dengan perempuan. Dengan berbagai alasan, salah satunya takut DOSA. Pilihan menikah dengan perempuan memang bukan hal yang salah. Karena setiap orang berhak memilih yang terbaik untuk dirinya. Termasuk untuk menentukan menjadi seorang gay.

Tetapi sayangnya pernikahan dengan perempuan oleh seorang gay sebenarnya tidak dia inginkan secara tulus dari lubuk hati. Semua selalu menjawab dengan alasan klise, supaya ada status sosial, ingin punya anak dan biar masuk surga.
Padahal dari pengamatan penulis masyarakat atas nama agama telah memaksakan kasih sayang kepada pihak lain. Dalam hal ini kelompok homoseksual. Sehingga tidak jarang seorang gay yang menikah dengan perempuan tetap saja berhubungan dengan laki - laki lain. Tindakan ini yang penulis tolak, karena bagian dari kekerasan.

Dalam konteks ini kalau dilihat lebih jauh akan makin banyak orang yang menjadi korban dari pemaksaan itu. Baik gay itu sendiri, istrinya, anak - anaknya dan pasangan gay nya. Semua menjadi korban dari sistem sosial yang sangat heterosentris.
Dalam konteks ini apakah kita akan menggugat Tuhan karena telah "melahirkan" orang menjadi gay? Mengapa Tuhan juga menciptakan kasih sayang antara sesama jenis??

Pada Hari Kasih Sayang ini,mungkin kita semua harus refleksi diri. Bahwa kasih sayang bukan hanya milik kelompok heteroseksual. Tetapi kasih sayang juga ada dalam jiwa - jiwa seorang gay. Ini lah keberagaman cinta. Karena itu lah memang yang diciptakan Tuhan. Perbedaan.
Terima Kasih Tuhan yang telah memberikan kasih pada diri ku. Sebagai seorang gay.


Selamat Hari Kasih Sayang Bagi Semua Makhluk

Wasalam


Toyo
Kalibata, 11 Februari 09

Read more...

Manusia Bebas

>> Minggu, 08 Februari 2009



Ingin menjadi manusia yang bebas. Kalimat itu yang selalu diucapkan oleh Anissa (tokoh utama). Anissa adalah tokoh perempuan pejuang dalam film Perempuan Berkalung Sorban. Film ini diangkat dari novel karya Abidah El Khaleiqy banyak bicara soal perjuangan perempuan.


Perjuangan mendobrak sistem budaya partriaki yang terjadi di Pesantren Salafiah di Jombang Jawa Timur. Pesantren yang menerapkan sistem "traditional" dalam sistem pendidikannya. Latar belakang cerita film ini pada tahun 90 an. Dimana saat kekuatan militer dalam pemerintah Orde Baru (Suharto) yang sangat kuat.

Dalam cerita itu bagaimana perempuan dalam tafsir agama (dalam hal ini Islam) ditempatkan pada posisi sub ordinat (rendah).
Bagaimana Anissa maupun santri perempuan yang lain menjadi manusia nomor dua. Dari mulai dilarang perempuan untuk menjadi pemimpin, perempuan harus bersedia di poligami, dilarang meminta cerai. Sampai yang paling Ironis perempuan dilarang untuk mengetahui pelajaran dari ilmu "diluar" Islam.

Para santri perempuan harus sembunyi - sembunyi untuk dapat membaca pemikiran dari tokoh - tokoh sastra besar Indonesia. Seperti buku - buku tulisan dari Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia). Karena dinilai buku itu ditulis oleh seorang komunis yang anti Tuhan. Tidak segan sampai harus dibakar buku - buku tersebut karena ketahuan membacanya.

Pada saat menonton film itu mungkin kita berpikir. Apakah seburuk itu kondisi perempuan di dalam pesantren? Sehingga tidak heran ketika Tifatul Sembiring Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring ikut bersuara. Ia mendukung seruan Imam Besar Masjid Istiqlal Ali Mustafa Yakub agar film itu diboikot.
Ia pun meminta film itu dikoreksi. Menurut nya film itu menampilkan diskriminasi terhadap perempuan yang dilakukan ulama dengan dalih agama, seperti perempuan tidak boleh jadi pemimpin, perempuan tidak boleh naik kuda, perempuan tidak perlu berpendapat dan perempuan tidak boleh keluar rumah tanpa disertai muhrimnya. Sehingga Presiden PKS itu lantas mengimbau agar para pekerja kreatif seperti film lebih berhati-hati dalam melahirkan karyanya bila bersentuhan dengan SARA. "Kalau menurut saya, hal-hal yang berkaitan dengan SARA itu harus hati-hati," pungkas Tifatul..

(http://www.detiknew s.com/read/ 2009/02/06/ 120535/1080533/ 10/tifatul- desak-film- perempuan- berkalung- sorban-dikoreksi)

Sayangnya dalam memberikan komentar film itu. Tifatul belum menonton filmnya. Sehingga Tifatul tidak melihat hal - hal yang lain. Seperti bagaimana pandangannya terhadap Islam yang membolehkan poligami. Bagaimana kondisi perempuan yang mengalami pemerkosaan dalam rumah tangga. Apa komentar Tifatul untuk yang ini? Karena sampai sekarang kalangan PKS "menjunjung" tinggi nilai - nilai itu. Yang meyakini bahwa itu adalah perintah Allah SWT.

Sebenarnya kalau boleh jujur ini lah wajah perempuan Indonesia umumnya. Memang penindasan terhadap perempuan bukan hanya terjadi pada tafsir agama Islam saja. Tetapi diagama - agama yang lain juga perempuan masih ditempatkan sebagai manusia kelas dua. Dibandingkan dengan laki - laki. Walau bentuk - bentuk ketidakadilan nya berbeda - beda.

Film telah membuka mata publik bahwa ini lah yang dihadapi oleh banyak perempuan. Sehingga itu lah yang mendasari lahirnya UU PKDRT di Indonesia salah satunya. Perempuan lebih berani untuk menyatakan hak hidupnya. Tapi lagi -lagi perempuan terjerat dalam lingkup tafsir agama yang sangat kuat dalam lingkup partriaki.
Ironisnya bukan hanya laki - laki tetapi perempuan sendiri juga masih "dirasuki" oleh budaya partriaki tersebut. Seperti yang jelas digambar dalam film itu bahwa masih ada laki - laki yang sangat feminis (suami Anissa yang kedua) dan perempuan yang sangat partriaki (Guru pesantren).

Kita berharap film ini akan membuka dan membangun kesadaran banyak perempuan Indonesia. Untuk lebih berani bersuara dan melakukan tafsir - tafsir ulang teks Alkitab yang misoginis. Seperti yang sudah dilakukan oleh Prof Musdah Mulia, Ciciek Farha, Lies Marcos.
Pengalaman film ini kita berharap dapat mendorong munculnya militansi para perempuan korban kekerasan rumah atas nama agama. Dimana pun berada. Katakan bahwa tidak ada toleransi terhadap kekerasan atas dasar apapun, termasuk tafsir agama.

Dalam hal ini kita minta bukti kepada orang - orang seperti Presiden PKS bahwa Islam itu Ramah terhadap perempuan. Tunjukkan tafsir yang berpihak dan dibaca oleh kaca perempuan. Untuk kepentingan perempuan. Bukan keadilan yang ditafsirkan dengan kaca mata Laki - laki (partriaki). Dan untuk kepentingan laki - laki.

Karena perempuan juga membutuhkan hidup bebas sama dengan laki - laki. Bukan kah ini adalah esensi ajaran agama untuk manusia yang diciptakan oleh Allah SWT.



Salam Pembebasan



Toyo


Mampang, 9 Februari 09




Read more...

Bukan Gay Saja Yang Harus Baik dan Pintar

>> Kamis, 05 Februari 2009

Gay itu ternyata ada juga yang pintar nya. Lebih kurang ini kalimat yang disampaikan dari salah seorang pengunjung blog ini. Aku tergelitik dengan kesimpulannya terhadap gay. Aku tidak tahu pandangan pengunjuang blog ini terhadap gay selama ini. Memang disisi lain suatu pandangan yang "positif" untuk kelompok gay. Tapi sebenarnya dibalik itu masih ada persoalan cara pandang yang beda terhadap dunia gay. Walau pengunjung ini tanpa mengungkapkan itu.

Sebenarnya cara pandang itu bukan yang pernah aku dapat. Sering sekali teman - teman atau orang - orang kalau diskusi soal gay dan waria dengan aku. Kebanyakan menyimpulkan bahwa waria itu adalah orang yang kreatif dan penuh ide - ide. Banyak contoh yang diberikan kepada ku tentang waria - waria atau gay yang sukses dalam dunia salon dan kecantikan ataupun karir lainnya.

Untuk gay selalu dilekatkan dengan sebutan bahwa gay itu orang pintar - pintar dan banyak yang sukses. Suka humor, selalu gembira dengan teman - teman gay dan waria. Tiada hari tanpa tertawa. Sehingga hal ini yang banyak dianggap suatu yang positif dari diri waria dan gay tersebut. Benarkah semua gay dan waria itu begitu? Bagaimana jika ada seorang gay dan waria yang tidak seperti itu?

Memang disisi lain ada benarnya tanggapan itu kalau melihat fakta. Bahwa gay banyak yang jadi pejabat atau sukses dalam pendidikan dan karier, suka humor, baik hati dan label lainnya.

Tapi pertanyaannya apakah tidak ada gay yang miskin, bodoh, tidak sukses, tidak berpendidikan dan tidak kreatif? Sanjungan terhadap waria dan gay yang mengeneralkan tersebut justru menjadi persoalan baru bagi kelompok gay sendiri.

Bukankah keberhasilan seseorang itu didapat bukan karena orientasi seksualnya. Tetapi karena usahanya sendiri. Jadi siapa saja dapat berhasil berkat kerja kerasnya bukan karena orientasi seksual nya.

Memang harus diakui bahwa waria banyak yang kerja untuk bidang kecantikan dan model yang sukses. Dan ini merupakan kontribusi yang luar biasa bagi Indonesia.
Tetapi kesuksesan waria ini lebih disebabkan oleh banyak faktor salah satunya kontruksi sosial yang menempatkan waria pada ruang itu saja. Sehingga tidak sedikit waria harus bekerja maksimal dengan segala keterbatasannya.

Tidak jarang para aktivis LGBTIQ sendiri mengatakan bahwa sebagai seorang homoseksual harus pintar - pintar bergaul dengan orang lain. Aku jadi kaget dengan pernyataan itu. Bukan kah persoalan pintar bergaul dan berbuat baik kepada orang lain harus dilakukan oleh semua orang? Mau dia homoseksual atau heteroseksual ya harus berbuat baik pada siapapun.

Sangat tidak adil kalau homoseksual selalu dibebani untuk selalu berbuat baik. Sepertinya homoseksual itu manusia yang aneh dari planet lain. Yang harus selalu di ingatkan untuk berbuat baik kepada orang lain. Padahal soal baik dan buruk juga bisa terjadi oleh siapapun.

Kembali kepersolan awal. Seorang gay memang harus pintar dan terus belajar. Tapi soal pintar bukan hanya diharuskan oleh seorang gay. Tapi oleh setiap orang tanpa melihat latar belakangnya.

Mungkin saja seorang gay menjadi pintar dan sukses karena merasa dirinya ada kekurangan sebagai seorang gay. Karena tidak jarang kelompok gay sendiri menganggap homoseksual itu adalah sebuah "kecacatan". Karena dianggap kecacatan justru memicu seorang gay bekerja dan belajar maksimal. Sebagai bentuk menutupi kecacatan tersebut. Ini ironis sekali. Fakta ini banyak sekali dialami oleh seorang gay.

Sampai sekarang ini. Pertanyaannya apakah semua orang untuk bisa menjadi baik dan pintar itu harus distigma dahulu?? Misalnya dengan label kecacatan atau penyimpangan?? Seperti yang dialami oleh kebanyakan gay sekarang ini.


Tanpa sadar sanjungan ataupun pujian yang kita berikan pada orang lain justru kadang menempatkan kelompok itu sebagai the others.


Wasalam


Toyo

Kalibata, 5 Februari 2009


Read more...

Keblinger Soal HIV dan AIDS

Apabila bicara soal homoseksual maka akan menyamakan dengan penyakit menular. Dalam hal ini HIV dan AIDS. Pandangan itu karena dipengaruhi sebuah kesimpulan mengenai penyebab penyakit HIV dan AIDS salah satunya anal sex. Walau semua kita paham bahwa anal sex bisa juga dilakukan oleh heteroseksual. Tetapi paradigma orang bahwa anal sex sama dengan homoseksual. Apakah kelompok homoseksual lebih banyak melakukan anal sex dibandingkan dengan heteroseksual? Masih perlu dilakukan kajian lebih dalam untuk ini.


Belum lagi bicara homoseksual, maka kita akan bicara soal orientasi seksual. Homoseksual sendiri ada yang lesbian (perempuan) dan gay (laki - laki). Sehingga menyimpulkan bahwa anal sex = homoseksual juga sebuah kekeliruan yang sangat fatal. Karena prilaku seksual anal sex itu hanya dapat dilakukan oleh pasangan gay, tidak untuk lesbian. Selain itu heteroseksual juga bisa melakukan anal sex seperti yang aku paparkan diatas.

Jadi jelas bahwa anal sex adalah menyangkut soal prilaku seksual seseorang sedangkan homoseksual dan heteroseksual adalah menyangkut orientasi seksual. Itu adalah dua hal yang sangat berbeda sekali.

Memang selama ini para pekerja AIDS maupun pemerintah membuat membuat kesimpulan kurang tepat. Seperti yang ditulis berita berikut ini dalam media bahwa ada 1.310 kasus HIV/AIDSyang tercatat pada Juni 2005, kasus yang berasal dari homoseksual dan transeksual (gay/ waria) hanya 2%, jauh dibandingkan dengan kaum heteroseksual (18%) dan penyalah guna napza suntik (61%)[1].

Angka nya memang lebih kecil untuk homoseksual dibandingkan dengan heteroseksual.
Tapi ini fatal sekali sekali dengan menyebutkan homoseksual. Karena mesti dijelaskan lagi bahwa yang mengakibatkan penularan HIV dan AIDS adalah tindakan atau prilaku seseorang. Bukan pada orientasi seksual nya.

Belum lagi kalau disebutkan anal sex = aids. Itu juga sebuah kekeliruan lagi. Bahwa jika seseorang apabila melakukan anal sex baik heteroseksual maupun anal sex bisa aman dari penyakit menular jika dalam berhubungan menggunakan kondom dan pelicin yang benar. Memang seperti yang selalu dikampanye selama ini bahwa AIDS dapat dicegah yang pertama tanpa melakukan hubungan sex (misalnya secara penetrasi), kedua setia pada pasangan, ketiga menggunakan kondom. Kampanye ini digunakan bagi kelompok yang melakukan sex aktif. Sex aktif juga bisa terjadi oleh siapapun, bukan pada orientasi seksualnya.

Banyak juga laki – laki yang menjadi pelanggan - pelanggan “waria” itu umumnya adalah laki - laki yang tidak mau dikelompokkan sebagai homoseksual. Mungkin ini karena homoseksual dianggap rendah dimata masyarakat.

Jadi aku pikir kalau melihat kesimpulan mengenai penyakit HIV dan AIDS harus kritis.
Sampai sekarang saja kita selalu memisahkan antara identitas gender, laki - laki, perempuan dan Waria. Padahal aku sendiri juga mau tanya mana yang disebut waria? Itu yang masih belum jelas sampai detik ini. Pengelompokan identitas gender itu berdasarkan apa? Ini hal yang rumit lagi mesti dibahas.

Mudah – mudahan informasi ini bisa membantu untuk melihat persoalan HIV dan AIDS lebih adil. Sehingga aku tegaskan sekali lagi bahwa penyakit HIV dan AIDS itu adalah suatu penyakit menular yang bisa masuk kepada siapapun. Tidak melihat latar belakang agama, jenis kelamin, etnis, ras, orientasi seksual, status sosial, ekonomi, pendidikan dsb. Penularan nya bisa bermacam – masam seperti hubungan seksual yang tidak aman (seperti melalui anal, vagina), jarum suntik, air susu dan tranfusi darah darah.
Itu semua bisa dicegah dengan beberapa cara, salah satunya menggunakan kondom yang benar.

Jadi mulai sekarang buang jauh – jauh menyimpulkan HIV dan AIDS dengan identitas tertentu seseorang.

Salam


Toyo

Kalibata, 5 Feb 2009

[1] http://www.mail-archive.com/wanita-muslimah@yahoogroups.com/msg03998.


Read more...

Gay VS Pesantren

>> Selasa, 03 Februari 2009

Pada saat Aku datang ke Banda Aceh atas undangan salah satu LSM di Banda Aceh. Ini adalah kedatanganku pertama setelah persidangan kasus ku bulan Oktober 08.
Kedatangan kali tanggal 26 Januari 2009.

Jadwal kedatangan kali ini bertepatan dengan jadwal pelatihan teman - teman Violet Gray. Violet Gray adalah satu LSM yang memperjuangkan hak - hak kelompok LGBTIQ di Aceh. Teman - teman menyebutnya VG lembaga tersebut. VG sendiri berdiri sekitar tahun 2007.


Pelatihan kali ini temanya soal hak asasi manusia dan homoseksual. Pelatihan dimulai tanggal 26 Januari - 30 Januari 09. Pesertanya juga teman - teman gay yang ada di wilayah Aceh. Walau ada peserta perempuan yang lainnya. Seperti dari LSM Perempuan dan perempuan ODHA yang ada di Banda Aceh. Dan juga dihadiri oleh 2 orang dari LSM Medan yang fokus untuk isu HIV dan AIDS (Sahiva). Pelatihan ini dibantu oleh Ayie (Dosen FT Unsyiah)dan Leila, Norma (Staff RPUK). Ketiganya adalah aktivis perempuan yang selama ini yang banyak mensupport kegiatan teman - teman VG.

Aku tidak banyak bisa mengikuti pelatihan kali ini. Dan memang aku juga tidak ada jadwal untuk mengikutinya. Oh ya selain itu Ienes Angela (Waria) dari Yayasan Srikandi Sejati Jakarta juga hadir. Panitia sengaja mengundang Ienes untuk hadir ke Banda Aceh sebagai narasumber. Dan ini adalah kedatangan pertama Ienes ke kota Serambi Mekkah. Kedatangan Ienes diharapkan oleh panitia dapat memberikan support pada teman - teman waria di Banda Aceh.

Aku sampai di Banda Aceh pada sekitar pukul 14.00 WIB. Setelah aku istirahat aku menyempatkan waktu untuk datang kepelatihan tersebut. Sambil aku juga memberikan beberapa buku pesanan teman - teman VG. Buku soal seksualitas dan HAM.

Setelah makan malam bersama dengan peserta yang lain. Aku baru mengetahui kalau ternyata "pacar" ku ikut sebagai peserta juga. Syukur lah Bobby sudah mau bergabung dengan teman - teman gay di Aceh. Apalagi sudah gabung dengan LSM yang mau memperjuangkan hak - hak nya. Minimal ini sudah menjadi perkembangan yang bagus bagi diri bobby sendiri. Sebagai cara untuk menguatkan diri nya sendiri setelah kejadian penyiksaan yang dialami bersama ku pada tahun 2007.

Sempat aku hampir tidak mengenali nya. Karena badan nya yang lebih besar dan wajahnya lebih bersih. Tapi rupanya Bobby sudah mengetahui kedatangan ku. Sehingga dia sempat tidak mau menemui aku. Bahkan tidak mau mengikuti pelatihan malam itu alasan sakit. Tapi atas bantuan Leila aku akhirnya dapat menemui nya. Dan aku diskusi biasa saja dan sempat mendiskusikan hal - hal yang berkaitan dengan kasus yang kami alami berdua. Setelah itupun kami masuk keruang pelatihan untuk mengikuti proses pelatihan bersama teman yang lain.

Malam itu acara difasilitasi oleh Norma. Aku ketinggalan masuk. Teman - teman sudah memegang satu lembar kertas putih. Dan semua nya sedang sibuk mencoret - coret kertas putih tersebut. Kemudian aku bertanya sedang melakukan apa? Norma pun menjelaskan kepada ku dan Bobby untuk menggambarkan perjalanan hidup dari mulai kecil sampai sekarang. Jadi judulnya adalah Sungai Kehidupan.

Aku pun mulai menggambarkannya. Setelah selesai masing - masing peserta diminta untuk saling memaparkan gambar nya sambil menceritakanya pengalaman masing - masing. Satu demi satu teman - teman menceritakannya.

Sampai giliran salah seorang temanku laki - laki. Nama nya Anto (nama samaran). Anto seorang gay. Dia bekerja di salah satu Lembaga International di Banda Aceh. Selama ini Anto juga salah satu orang yang banyak membantu VG. Walaupun dia bukan membantu secara full time. Tapi kontribusi dan banyaknya jaringan LSM yang dimiliki banyak membantu gerakan VG di Aceh.

Anto adalah seorang putra Aceh yang lahir dan besar di Aceh. Walau sempat sekolah di Medan. Tapi masa kecil nya dihabiskan di Aceh. Dia mempunyai kemampuan bahasa Inggris dan Bahasa Arab yang baik. Karena itu juga lah dia dapat bergabung dilembaga asing.

Aku kenal Anto memang sejak aku datang ke Banda Aceh setelah Tsunami sekitar bulan Oktober 06. Sebelumnya aku sudah kenalnya melalui millis di Aceh. Aku beberapa kali ketemunya dan saling diskusi waktu aku masih di Aceh. Aku tidak banyak tahu soal latar belakang nya. Karena memang selama ini kita lebih banyak diskusi soal gerakan perempuan dan sedikit isu gay.

Hanya aku tahu dia seorang gay yang belum begitu terbuka dengan teman - teman di Aceh. Mungkin ini karena pilihan yang diambilnya untuk memudahkan kerja - kerjanya di Aceh. Walau ada sebagian aktivis yang tahu identitasnya.

Pada malam itu lah aku jadi banyak tahu latar belakang Anto. Terutama soal pengalaman seksualitasnya. Pada saat Anto menyampaikan gambar kehidupannya.
Anto dilahirkan di Aceh sampai SMU. Pada masa anak - anak dia pernah beberapa kali pelecehan seksual bahkan pemerkosaan. Yang dilakukan oleh seorang laki - laki dewasa kepada dirinya. Waktu itu Anto tidak tahu harus bicara dengan siapa.

Pengalaman hidup nya itu membuat dia tumbuh dalam kondisi yang trauma dan marah. Bahkan bukan cuma orang lain. Paman nya sendiri pernah melakukan pelecehan seksual kepada dirinya. Anto terus tumbuh dan merasa salah dan kesal dengan perlakuan orang - orang terhadap diri. Kejadian itu tidak pernah Anto ceritakan kepada siapapun.

Rasa marah dan rasa berdosa pun menghantui diri sendiri. Akhirnya dia memutuskan untuk mondok di pesantren Aceh. Selain Anto akan menghapus masa kelam nya tetapi juga untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Anto berharap di pesantren akan terhindar dari pelecehan seksual. Dan dia sendiri akan merasa lepas dari dosa - dosa selama ini. Simple nya akan mendapatkan pencerahan dan kehidupan yang baru. Serta yang lebih penting tidak akan ada orang lagi melecehkan diri nya. Itu yang ada dalam pikiran Anto waktu itu.

Anto pun masuk Pesantren. Pesantren itu adalah pesantren yang semua nya adalah santri laki - laki. Memang di pesantren sangat tegas sekali bahwa hubungan sesama jenis dilaknat oleh Tuhan. Itu yang selalu ditegaskan oleh para guru nya. Dan santri - santri sudah paham semua nya.

Dari situasi yang ketat sekali dipesantren. Ternyata Anto menemukan pemandangan yang lebih parah dari luar. Dipesantren Anto sering menemukan hubungan sejenis terjadi. Anto berpikir kenapa di pesantren justru lebih banyak Anto temui kejadian ini. Ada yang dilecehkan tetapi ada juga yang suka dengan suka.

Maksud untuk keluar dari pelecehan seksual ternyata tidak Anto dapatkan. Anto justru sering sekali mendapatkan pelecehan - pelecehan seksual tersebut. Bahkan Anto pernah diikat oleh senior sambil digagahi tubuhnya. Anto marah dan kesal dengan tindakan di pesantren ini. Malah bukan hanya kakak senior tetapi pernah seorang guru nya juga melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya. Anto memang memiliki wajah yang manis sekali. Tapi semanis apapun seseorang tidak berhak untuk dilecehkan. Anto sama sekali tidak menikmati pelecehan tersebut.

Dalam kondisi suara yang parau Anto kemudian mengakhiri ceritanya. Sambil mengatakan bahwa bukan jawaban lembaga pesantren untuk kita "terbebaskan" dari pelecehan seksual . Ternyata pesantren bukan lah semata - mata jawabannya. Tidak selalu pesantren menjadi tempat yang aman bagi diri nya maupun bagi anak - anak yang lain. Anto tidak tahu apakah karena santrinya laki - laki semua dan selalu bersama - sama.


Dan malam ini Anto melalui proses yang panjang akhirnya paham soal apa itu homoseksual. Dimana Anto harus memperjuangkan hak diri nya sendiri. Anto tidak mengatakan bahwa dirinya "menjadi" sekarang ini karena trauma masa kecil dan di pesantren. Karena setelah keluar dari pesantren Anto sampai dua tahun kebelakang ini masih saja memutuskan untuk menikah dengan cewek. Untuk bersama dengan laki - laki tidak terpikirkan oleh Anto selama ini.

Tapi ini adalah sebuah proses panjang yang Anto cari selama dua tahun ini.
Pemikiran Feminis dan perjuangan hak asasi manusia selama ini memberikan banyak pemahaman bagi dirinya. Termasuk untuk sadar dan bangga sebagai seorang gay.
Sambil meneteskan air mata, Anto mengatakan bahwa sekarang dia bangga dapat memberikan kontribusi pada VG untuk gerakan gay di Aceh maupun dunia.

Teruskan perjuangan mu sobat.............


Wasalam


Toyo

Kalibata, 3 Februari 09

Read more...