Gay-Waria dan Urgensi Tes HIV/Aids

>> Selasa, 24 Maret 2009

Ada beberapa hal yang aku ingin tanya dari undangan dibawah ini :

1. Apakah istilah kelompok rentan masih tepat sebagai upaya untuk penghapusan
diskriminasi dalam pencegahan HIV dan AIDS?
2. Apakah yang VCT nya rendah itu hanya gay - waria saja? Apakah perempuan,
pecandu, PSK, tokoh agama, pejabat atau orang juga sudah mempunyai kesadaran
yang tinggi untuk melakukan VCT?
3. Kalau alasan gay - waria malu diketahui jati dirinya, sehingga sulit VCT.
Pertanyaannya adalah sebenarnya akar persoalan apa? Dan apa yang harus
dilakukan? Apakah tepat mendorong gay - waria VCT, padahala persoalannya "MALU
dengan Identitasnya"

Menurut saya kalau masih banyak orang atau lembaga masih berpikir bahwa gay -
waria seperti ada pada undangan ini. Program2 seperti ini akan cuma menghabiskan
sumberdaya saja. Karena persoalan kuncinya bukan soal mereka tidak mau VCT.
Tapi ada banyak soal yang harus mereka hadapi, misalnya seperti yang sudah aku
sampaikan diatas, persoalan identitas, kemudian bagaimana kalau sudah ODHA
kelanjutannya gimana? Misalnya ARV saja kesediannya masih masalah, stigma
masyarakat yang masih tinggi terhadap ODHA, pecandu, PSK ataupun waria - gay.

Karena sangat mungkin sekali orang lebih "memilih" mati daripada harus tahu
sebagai ODHA dan kemudian di diskriminasikan oleh masyarakat maupun keluarga.

Kemudian cara pandang kita terhadap penyakit HIV AIDS ini. Semakin ada banyak
lembaga yang khsusus menangani HIV AIDS, seperti UNAIDS, Depkes dan KPA. Tapi
persoalan diskriminasi tidak menunjukkan perubahan lebih baik. idikatornya
adalah dulu belum ada satu pun kebijakan yang menyebutkan homoseksual itu
menyimpang atau dikriminalkan.

Tapi pada tahun 2008, UU Pornografi menyebutkan
bahwa homoseksual adalah persenggamaan yang menyimpang. Pertanyaannya adalah
dimana tuh lembaga - lembaga yang aku sebutkan diatas posisinya??. Sekarang saya
sedang sebagai pemohon JR UU Pornografi. Tapi tidak ada satupun lembaga yang aku
sebutkan diatas memberikan dukungan baik materi maupun moril bagi gerakan
Judicial Review UU Pornografi tersebut. Semua sibuk dengan program "jualan"
kondomnya saja.

Artinya persoalan menyimpang dan tidak menyimpang tidak tersosialisasikan dengan
baik kepada pengambil kebijakan maupun pihak lain. Aku berani taruhan dimillis
ini saja, masih banyak kok yang menyebutkan bahwa gay - waria itu menyimpang??
Wong masih ada kok psikolog, psikiatri menyebutkan gay - waria itu menyimpang.
Misalnya kita bisa baca pendapat para ahli itu pada saat ada kasus mutilasi
yang diduga dilakukan oleh Ryan. Dan yang meluruskan itu malah LSM2 yang fokus
di isu HAM.

Ini menunjukkan peran lembaga yang mestinya bertanggungjawab untuk sosialisasi
bahwa gay - waria tidak menyimpang belum sama sekali dipikirkan dan dilakukan
kepada semua pihak.

Saya ambil contoh untuk buku - buku pendidikan, aku pernah baca satu buku SD
yang meyebutkan bahwa homoseksual itu adalah "penyakit sosial". Ini kan sangat
parah sekali yang akan diajarkan oleh siswa. Kalau boleh jujur padahal mandat
KPA adalah koordinasi dengan departeman2 salah satunya adalah departemen
pendidikan dan kesehatan. Apakah pernah lembaga2 itu pernah melakukan reformasi
sistem kurikulum dalam pendidikan soal menyimpang dan tidak menyimpang ini?

Belum lagi di kalangan LSM anak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, sampai
sekarang masih banyak menilai bahwa homoseksual adalah sebuah penyimpangan. Ini
pengalaman saya ketika diskusi dengan pihak KPAI dan beberapa LSM anak.

Karena persoalan hiv dan aids / waria - gay = urusan moral. Jangan - jangan LSM
yang kerja untuk HIV dan AIDS yang pendekatan melalui agama juga melakukan hal
yang sama?? Wah parah banget itu...Karena sampai sekarang isu homoseksual
dikalangan agama masih sangat sulit di dobrak. Hanya beberapa orang saja yang
peduli dan care untuk isu Homoseksual. Saya tahu tokoh2 itu baik dari Kristen
dan Muslim. Kebanyakan tokoh agama selalu menginginkan kembali ke "Jalan yang
benar", capek deh...

Menurut saya ini yang mesti dibongkar,
jadi persoalannya bisa terselesaikan dari hulu sampai hilir. Bukan malah
mendorong2 waria - gay untuk VCT, walau aku tahu ini hal yang penting. Tapi bagi
saya ini hanya satu hal saja.

Ironisnya program HIV AIDS itu lebih banyak menyangkut persoalan teknis medis
saja. Itu yang minimal aku aku amati. Makanya ada "guyonan" dengan beberapa
aktivis "kritis", bahwa program HIV dan AIDS di Indonesia, program by LATEX
approach.

Aku punya keyakinan bahwa hal -hal yang berkaitan dengan persoalan sosial, jika
bisa diselesaikan, akan lebih mudah mengajak orang VCT. Dan mungkin sekali akan
sampai pada kesadaran yang tinggi. Karena aku yakin tidak ada yang mau sakit
dalam hal ini menjadi ODHA.

Mungkin diharapkan talkshow kedepannya tidak hanya ,membicarakan soal hal - hal
teknis medis saja. Dan bagi KPA, pemerintah, LSM maupun Lembaga Donor mesti
memberikan perhatian persoalan diskriminasi yang terjadi baik secara sosial,
budaya maupun tafsir agama. Ini penting sekali dibahas, jangan "menghindar" dari
persoalan ini. Karena kalau tidak program HIV dan AIDS khususnya untuk gay dan
waria akan menjadi bunder saja.

Walau aku tahu ini sebuah proses panjang, tapi program HIV dan AIDS di Indonesia
sudah 20 tahun lebih. Dan belum ada tanda - tanda perubahan pendekatan selain
hanya pendekatan teknis saja.


Undangan Liputan

Diskusi Klinik KBR68H

Tema : Gay-Waria dan Urgensi Tes HIV/Aids

Kaum gay dan waria tergolong rentan kena HIV/Aids. Untuk itu, mereka
disarankan untuk rutin melakukan pemeriksaan khusus HIV/Aids atau
Voluntary Counselling Testing (VCT).
Komisi Penanggulangan Aids Nasional (KPAN) menyebutkan bahwa jumlah
komunitas gay-waria yang rutin VCT sangat rendah. Mereka malu diketahui
jati dirinya.
Lebih jauh soal gay-waria dan VCT, kami mengundang Anda untuk mengikuti
talkshow Klinik KBR68H , pada :
Hari, tanggal : Selasa 24 Maret
Waktu : 09.00 WIB
Tempat : Kedai Tempo
Alamat : Jl. Utan Kayu 68H Jakarta Timur.

Narasumber :
- Hary Prabowo (Komunitas Gay-Waria),
- Subagio MS (Direktur Kelembagaan Komunikasi Pemerintahan- Dirjen SKDI-Kominfo)

Acara ini bekerjasama dengan KPAN dan Kominfo.

Terbuka untuk umum. Di Jakarta, simak di 89,2 FM Green Radio.
Info lebh lanjut : Gita (021 851 3386)

Read more...

Gaydar

>> Selasa, 17 Maret 2009

Aku baru saja pulang dari salah satu kedutaan untuk urusan visa di Jakarta. Aku menyeberangi jalan dalam kondisi ramai kenderaan. Kemudian sambil berjalan pelan - pelan, ada lewat mobil kecil berwarna biru. Aku tidak ingat merk mobilnya. Hanya warna, bentuk mobil saja nya yang aku ingat. Oh tidak, aku ingat warna kemeja pengendaranya, kemeja kotak - kotak kuning kecoklatan.

Dengan cepat aku melirik seseorang yang ada dalam mobil itu. Rupanya tatapan ku juga dibalas oleh orang yang ada dalam mobil itu. Dia seorang laki - laki yang berbadan lumayan gemuk. Walau aku hanya sepintas melihat. Tapi aku bisa merasakan tatapan matanya. Ada tatapan yang "lain". Sambil aku berjalan menyeberang dengan memperhatikan mobilnya yang berlalu. Dalam hati aku katakan, pasti dia GAY.

Pada sesi lain. Ketika aku menghadiri satu diskusi di Komunitas Utan Kayu. Pada saat itu mata ku tertujuh pada seorang peserta diskusi. Tanpa aku berdialog dengan dia. Hati ku langsung katakan pasti ada yang "lain" dengan orang ini?? Dia seorang gay, kata ku dalam hati. Setelah acara bubar, kemudian aku tanya kepada teman ku yang kebetulan kenal dengan laki - laki itu. Aku bilang sambil guyon dengan teman ku, bahwa temanmu manis. Kawan ku pun tersenyum.

Dilain hari aku ketemu lagi dengan laki - laki itu pada acara diskusi di Paramadina. Aku datang bersamaan dengan teman perempuan ku. Teman ku yang bertemu di TUK tersenyum. Dengan senyum berbeda. Aku baru sadar rupanya orang yang duduk didepan ku adalah laki - laki yang aku lihat di TUK beberapa hari yang lalu. Mungkin karena itu teman ku tersenyum dengan aku. Teman perempuanpun bertanya, ada masalah apa kok pada tersenyum?? Tanya bingung.

Tapi Teman perempuan ku dengan cepat rupanya tahu apa yang sedang kami senyumkan berdua. Setelah melihat laki - laki yang duduk didepan ku. Teman perempuan ku bilang kepadaku, Ah Toyo suka LEBAY (artinya berlebihan dalam bahasa Jakarte).

Maksud teman ku bahwa aku terlalu berlebihan mengatakan bahwa laki - laki itu gay.
Dalam pergaulan sehari - hari teman perempuan ku ini memang sering bertanya kepada ku, apakah dia gay atau bukan? Bila bertemu dengan seorang laki - laki. Sehingga kalau aku katakan gay, selalu teman perempuan ku katakan, ah Toyo lebay. Sambil tertawa dan mengejekku yang katanya aku dianggap "saingannya" untuk mendapatkan cowok tersebut..

Terakhir aku baru mendapatkan informasi kepastian bahwa laki - laki yang sedang aku diskusikan itu memang benar - benar gay. Laki - laki mengenal teman baikku yang dari Aceh Aceh. Tanpa sengaja laki - laki itu menjadi topik pembahasan temaku yang dari Aceh. Pada saat kami ngobrol santai di Cafe di wilayah Thamrin Jakarta Pusat. Malam hari.

Aku langsung berkerut dahi, kenapa aku selalu bisa tepat mengidentifikasi seseorang itu gay atau bukan ya. Padahal aku tidak melakukan komunikasi verbal dengan orangya. Kalau pun komunikasi hanya waktu yang sangat sedikit sekali. Tapi ironisnya "keahlianku" ini bukan hanya dimiliki oleh aku sendiri saja. Tetapi teman - teman gay yang lain juga banyak dapat mengidentifikasi seseorang itu gay atau bukan.

Jadi jangan heran apabila saya berjalan dengan teman - teman gay. Biasanya akan selalu refleks sambil tersenyum kalau ketemu seseorang yang kami indentifikasi sebagai seorang gay. Moment itu tanpa harus direncanakan terlebih dahulu. Tanpa ada koordinasi.
Tapi sudah langsung kita akan tahu bahwa dia adalah Gay. Apakah aku dan teman - teman ku LEBAY?? aku tidak tahu lah, tapi ini selalu akurat.

Kadang aku dalam kesendirian sering berpikir kenapa aku bisa tahu ya. Dan ini juga sering didiskusikan dengan teman - teman gay. Menurut teman - teman gay ku inilah yang dinamakan GAYDAR.

Apa itu gaydar? Aku dibilang oon ama teman gay ku. Gaydar itu adalah "radar" seorang gay untuk menentukan seseorang itu gay atau bukan. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah yang mempunyai gaydar itu hanya seorang gay saja? Menurut teman ku memang ada juga seorang heteroseksual dapat mempunyai gaydar. Asal seseorang itu sering bergaul dengan teman - teman gay. Jadi tidak hanya seorang gay yang punya gaydar.
Memang gay - gay yang sudah "melalang buana" dalam komunitas gay bisaanya mempunyai gaydar yang sangat kuat. Dibandingkan yang lainnya. Ini mungkin ada kaitan dengan "teori" rasa memiliki yang tinggi. Apabila seseorang merupakan bagian dari kelompok tersebut. Maka dia akan mempunyai militansi dan rasa memiliki yang kuat. Mungkin ungkapan itu bisa digunakan untuk menentukan kekuatan gaydar seseorang.

Aku tidak tahu apakah benar alasan teman gay ku itu soal gaydar. Tapi itulah faktanya.

Ini bukan pertama kali aku bisa menentukan seorang gay hanya dari tatapan saja.Sudah sering sekali. Dari pengalamanku umumnya selalu tepat. Begitu juga dengan teman - teman ku. Bahkan dengan laki - laki gay yang sedang bersama anak - anak dan istrinya juga gaydarku bisa aktif. Kalau suami dan ayahnya adalah seorang penikmat laki - laki.

Kalau ditanya oleh temanku yang heteroseksual, bagaimana bisa tahu seseorang itu gay atau tidak? Apa ciri - cirinya?

Kalau menggunakan "keilmuan" gaydar akan sulit sekali di jelaskan kepada orang lain. Karena aku sendiri juga sukar menjelaskan ciri - ciri seorang itu gay atau bukan secara lisan atau tulisan. Itu lah yang selalu ditanya oleh banyak orang kalau aku bilang bahwa aku punya gaydar.

Pernah ada salah seorang wartawan media televisi yang mewancarai aku. Wartawan itu menanyakan kepada ku bagaimana ciri - ciri pasangan gay kalau berjalan? Pertanyaan yang konyol menurutku. Waktu itu aku jawab dengan konyol juga. Aku bilang emang apa bedanya pasangan heteroseksual dengan homoseksual kalau berjalan? Emang kalau pasangan gay itu jalannya NGESOT?? Sang wartawanpun tertawa terbahak - bahak. Yang mungkin dia juga sadar bahwa pertanyaan sangat konyol dan tidak berbobot.

Walau secara fakta, aku sangat bisa membedakan mana pasangan gay atau bukan yang sedang berjalan. Misalnya aku dapat dengan jelas menentukan mana pasangan cowok tetapi bukan gay. Dan mana pasangan cowok mereka adalah gay. Itu sangat bisa aku tentukan. Tapi kalau teman - teman tanya apa ciri - cirinya?? Maka aku akan sulit menjelaskannya. Itu lah unik nya Gaydar.

Dahulu waktu aku remaja katanya kalau gay itu feminin, metroseksual, suka menyanyi, menari, suka masak, memakai anting - anting sebelah kiri, bahwa ada yang bilang kalau jalan sapu tangan selalu ditaruhkan di kantong bagian belakang. Dan berbagai simbol - simbol yang kadang - kadang tidak masuk akal aku pikir. Sampai pada waktu remaja aku sangat "getol" mencari siapa gay itu. Karena keinginan mencari teman. Tapi sayangnya sangat sulit sekali aku bisa menentukan simbol - simbol itu sebagai kepastian gay atau bukan. Dan memang sekarang simbol - simbol itu tidak bisa sama sekali untuk menentukan seseorang itu gay atau bukan.

Ada satu pengalaman, aku punya teman perempuan baik sekali dengan aku. Bahkan sudah aku anggap adik saja. Dia seorang dokter umum di Medan. Dia punya seorang cowok yang lumayan manis sekali (setelah aku ketemu). Aku tidak kenal lelaki itu sebelumnya dan tidak pernah ketemu seingat ku. Pada satu hari aku dikenalkan oleh teman perempuanku itu dengan pacar cowoknya. Pada saat ketemu aku shock sekali dan kaget. Karena langsung GAYDAR ku "aktif". oh oh kamu ketahuan (syair lagu).....

Aku pun kemudian mencoba mendekati teman perempuan ku, untuk bisa menjelaskan dengannya baik - baik. Akhirnya aku bisa menyampaikan
siapa laki - laki yang dicintai nya itu. Teman ku pun sempat marah dengan aku. Dan mencoba menyangkal nya. Mungkin teman ku berpikir bahwa aku Lebay seperti kata teman yang cerita diatas.

Kemudian aku bilang kalau kamu tidak percaya tidak masalah, itu hak kamu. Dan kalau memang benar pacar mu gay juga bukan hal yang salah kok. Tapi kalau kamu mau bukti aku bisa buktikan. Teman perempuan tidak mau menerima tantangan ku untuk membuktikan nya.

Pada saat itu aku yakin teman ku percaya dengan ku. Tapi karena dia sangat cinta dengan cowok itu. Jadinya mencoba mengingkarinya. Sampai sekarang pun aku kasihan dengan teman perempuanku "seperti" dibohongi oleh laki - laki itu. Walau aku tahu ini ada "kesalahan" sistem sosial.

Pada satu sisi aku sangat sayang dengan teman ku. Tapi disisi lain aku juga bingung bagaimana menjelaskan soal ini. Aku kemudian hanya katakan kepada teman perempuanku. Bahwa calon suami adalah seorang penikmat laki - laki. Kalau memang kamu suka dan menerimanya itu tidak masalah. Tapi kamu harus siap jika seandainya suatu saat kamu bisa buktikan sendiri. Minimal kamu tidak akan mengalami trauma atau shock yang mendalam. Karena sejak awal aku sudah menginformasikan kepada mu.

Aku selalu katakan kepada teman perempuan ku itu, bahwa seorang gay tidak selalu melakukan hubungan badan dengan cowok. Mungkin saja pacar mu itu adalah gay yang bisa "menahan" hasrat seksual nya dengan laki - laki. Atau mungkin juga bisa keluar dari gay nya sehingga tetap setia pada kamu, kataku dengan memberi semangat kepada teman ku.

Teman ku waktu itu menangis dan tidak mengatakan apa - apa. Aku juga bingung harus berbuat apa. Awalnya aku mau bicara langsung dengan laki - laki itu secara empat mata. Setelah aku tahu benar bahwa ternyata dia "komplotan" teman gay ku. Dan dari teman gay ku lah aku dapat memastikan bahwa dia gay. Aku marah tapi aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Karena laki - laki ini juga selalu menghindar kalau sudah ketemu dengan ku. Sepertinya dia juga punya Gaydar yang bagus. Dan sekarang aku baru tahu mereka sudah menikah dan pindah ke Palembang. Aku juga tidak pernah dapat kabarnya lagi. Aku cuma berharap mereka menjadi suami istri yang bahagia selamanya.

Gaydar itu mungkin dapat menjadi kajian yang menarik dilihat dari sisi psikologi. Mengapa seorang gay lebih mudah mengenali gay lainnya. Apakah ada faktor sosial, budaya, agama yang menekannya. Sehingga karena tekanan yang kuat itu, maka ada cara lain yang untuk berkomunikasi. Walau tanpa verbal. Jadi memaksimalkan indra yang lainnya untuk dapat mengidentifikasi pasangannya. Itu yang perlu diteliti lebih jauh lagi.

Dalam hal ini perlu ditekankan bahwa Gaydar aktif tidak berarti bahwa keduanya saling suka. Bisa saja pada Gaydarnya aktif tetapi tidak tertarik satu sama lain. Atau tertarik keduanya. Sehingga tidak jarang saat gaydar aktif saat itu juga gay itu buang muka misalnya. Karena memang tidak ada rasa apapun.

Jadi Gaydar itu hanya alat penentu atau petunjuk seseorang itu gay atau bukan.
Dan kalau ingin diteliti menarik sekali seberapa akurat gaydar seseorang. Apakah akuratnya sama bagi semua gay yang punya gaydar?? Atau ada faktor yang menyebabkan gaydar seseorang sangat akurat?? Jadi kayak lampu Neon saja untuk mengukur kekuatan watt nya.
Atau mungkin juga gaydar itu adalah sesuatu yang "mistik" yang memang tidak dapat dikaji secara ilmiah? Karena dari pengalaman para ilmuwan (seperti psikolog atau psikitri) kalau membahas soal gay banyak hal yang lucu dan tidak sesuai faktanya.

Hanya waktu yang menentukan itu menjawan misteri dari gaydar tersebut..Kelihatannya lucu, tapi ini lah kenyataannya. Jadi mulai sekarang kalau mau tahu tentang: pacar cowok, bapak, suami, adik laki - laki, teman laki - laki, kakek, paman, anak laki - laki. Apakah mereka gay atau bukan? Kayakanya aku bisa bantu jadi konsultannya deh, GRATIS. hehehehehe.

Wasalam

Toyo

Mampang, 17 Maret 2009








Read more...

Mohon Dukungan JR UU Pornografi

>> Minggu, 15 Maret 2009

Undang – Undang Pornografi telah disyahkan pada tanggal 30 November 2009. UU ini akan efektif diberlakukan pada setiap orang di Indonesia. Kita tahu UU tersebut punya banyak masalah dan sudah lama ditolak oleh banyak orang. Salah satunya kelompok homoseksual.

Pada pasal 4 ayat 1 UU Pornografi menyebutkan homoseksual, lesbian, oral dan anal sex dikategorikan sebagai persenggamaan yang menyimpang. Padahal menurut ilmu psikologi dan psikiatri bahwa homoseksual, biseksual bukanlah penyimpangan (dalam PPDGJ III Depkses tahun 1993). Artinya bahwa UU ini tidak sesuai dengan dengan keilmuan yang ilmiah. Artinya negara telah mendiskriminasikan individu atau kelompok homoseksual sebagai warga negara. Padahal dalam hukum formal Indonesia ( UUD 45), Pancasila, hak asasi manusia, bahwa mendiskriminasikan seseorang/kelompok adalah sebuah tindakan yang tidak dibenarkan. UU itu (baca negara) telah melakukan kekerasan berganda bagi individu / kelompok homoseksual sebagai warga negara. Dampaknya adalah kebebasan individu / kelompok homoseksual di Indonesia akan terus dipinggirkan oleh negara maupun masyarakat. Karena telah distigma (dilabelkan) sebagai penyimpangan seksual seperti yang ada dalam UU tersebut.

Untuk itu kami yang terdiri dari individu seperti Nia Dinata, Ayu Utami, Jajang C Noer, dan di antaranya kelompok homoseksual ( Dodo, Hartoyo, Romoaldo, Agustin, Lili, Aji) maupun organisasi ( Wahid Institute, Koalisi Perempuan Indonesia, Ashram) akan melakukan Judicial Review (JR) UU Pornografi sebagai pemohon. Sedangkan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) sebagai pengacara pemohon.

Judicial Review adalah mekanisme yang syah untuk menolak satu produk hukum (UU) di Indonesia. JR dapat dilakukan oleh personal atau kelompok yang dirugikan secara langsung terhadap satu produk UU di Indonesia. Kelompok homoseksual adalah salah satu kelompok yang dirugikan secara langsung dalam UU tersebut. Sehingga itu lah alasan mengapa kelompok homoseksual akan melakukan JR UU tersebut. Walau JR ini bukan sebuah kepastian UU ini akan ”digugurkan”. Tapi minimal ini sebagai salah satu upaya untuk menggugurkan UU tersebut.

Untuk melakukan JR tersebut kami membutuhkan banyak sumberdaya. Dari mulai dukungan bentuk materi maupun moril. Sekarang ini kami membutuhkan sumber daya materi ( baca dana) untuk kebutuhan JR UU tersebut. Seperti untuk kebutuhan pertemuan team, honor staff ahli dan kebutuhan administrasi lainnya. Sekarang ini sedang dikumpulkan dana dari lembaga – lembaga dan individu yang peduli untuk kegiatan JR ini. Dari mulai kelompok perempuan, seni, adat dan kelompok homoseksual.

Untuk itu kami meminta bantuan kepada semua pihak dapat memberikan sumbangan semampunya untuk keperluan JR UU pornografi ini. Sumbangan dapat diserahkan langsung ataupun maupun melalui rekening di : No rekening : 01-001-00-20-20066-9, Bank : Mega cabang Kuningan, pemilik Rekening : Hartoyo dan Win (Joint Account).

Demikianlah informasi ini kami sampaikan. Atas nama team JR UU Pornografi kami ucapkan banyak terima kasih.

A.n Team Pemohon JR UU Pornografi


Hartoyo

Mobile : 081376 192516 / 021 – 02138925, Email : jam_gadang2003@yahoo.com, Alamat : Jl. Kalibata Utara I No. 18 Jakarta Selatan, Telp : 021 - 798.8875

Read more...




Judul Buku : Biarkan Aku Memilih;
Pengakuan Jujur Seorang Gay yang Coming Out
Penulis : Hartoyo dan Titiana Adinda
Genre : Kisah Nyata (True Story)
Penerbit : Elex Media Komputindo (Gramedia Group)
Tahun Terbit : 2009
Harga : Rp 29.800,-

Aku adalah seorang gay. Sejak kecil aku senang dengan laki-laki, hingga kini aku dewasa. Entah mengapa semua itu bisa terjadi. Sebagai seorang anak dari sebuah desa kecil di Binjai, Sumatra Utara, aku bersyukur bisa menyelesaikan kuliah di universitas negeri di Aceh. Namun, di Aceh jualah aku mendapat perlakuan tidak manusiawi dari masyarakat dan kepolisian karena pilihan orientasi seksualku. Aku merasa sedih dan marah. Menurutku, orang tidak semestinya menerima kekerasan akibat pilihan seksualnya. Namun demikian, komitmenku untuk berjuang demi nilai-nilai kemanusian akan tetap kujalankan. Aku masih tetap menunggu keadilan atas penyiksaan itu. Sungguh itu pengalaman pahit dalam hidupku. Betapa mahalnya harga sebuah kejujuran. Apalagi bicara jujur soal orientasi seksual kepada publik (coming out) bagi gay.

Read more...

Waria Dan Rahmat Allah SWT

>> Rabu, 11 Maret 2009

















Perayaan Hari Perempuan International yang jatuh pada tanggal 8 Maret 2009. Para aktivis perempuan di kota Banda Aceh yang tergabung dalam satu jaringan Gender Working Groups (GWG) merayakan hari tersebut. Sebuah jaringan yang dibangun melalui millis GWG. GWG sendiri selama ini fokus untuk mendiskusikan dan memperjuangkan hak – hak perempuan dan anak pasca bencana tsunami. Pada saat itu perayaan itu bukan hanya dirayakan oleh kelompok perempuan di Banda Aceh saja, tetapi perempuan yang ada diseluruh Indonesia. Ini sebagai upaya untuk melakukan perjuangan keadilan bagi perempuan/anak dan kelompok marginal lainnya.

Perkembangan gerakan perempuan ternyata bukan hanya persoalan perempuan saja yang harus diperjuangkan. Tetapi sudah memperjuangkan kelompok marginal lainnya. Kelompok feminis gerakan "baru" secara sistematis bersama kelompok marginal memperebutkan hak – haknya. Baik hak Sipil politik maupun ekonomi, sosial dan budaya. Tidak terkecuali gerakan perempuan bersama dengan kelompok marginal yang ada di Banda Aceh.

Dalam perayaan kali ini, yang menjadi ketua panitia berasal dari salah satu LSM gerakan hak – hak waria dan homoseksual di Banda Aceh. Kelompok yang aku ini merupakan salah satu kelompok marginal. Walau kita tahu masih banyak kelompok marginal lainnya, seperti penyandang cacat, buruh migran, masyarakat adat, agama minoritas. Waria ada homoseksual adalah kelompok yang mempunyai perbedaan orientasi seksual dan identitas gender. Kelompok ini memang menjadi kelompok yang “paling” terpinggirkan dalam konteks budaya masyarakat yang sangat dogmatis dalam memahami agama. Bukan hanya kelompok sendiri, orang yang peduli dan mau berjuang untuk kelompok harus siap dicap sebagai orang “sesat”.

Memang membicarakan persoalan waria dan homoseksual di Aceh sebenarnya kalau boleh jujur bukanlah hal yang baru. Minimal masyarakat Aceh punya banyak cerita soal persoalan identitas gender seperti seni pertunjukkan salah satunya Biola Aceh (mob-mob). Budaya Seni Mob-Mob menurut T Almusri Ali Bayuna, seorang pencipta lagu Aceh adalah budaya orang tua Aceh zaman dulu saat menang melawan peperangan dengan Belanda. (http://www.acehrecoveryforum.org/id/index.php?action=ARFNews&no=623). Dalam budaya seni diantara pemainnya seorang laki - laki yang mengubah identitas gendernya sebagai seorang “perempuan”. Artinya laki - laki tersebut berpenampilan layaknya "perempuan" umumnya. Berdandan dan mengenakan simbol – simbol perempuan.

Apakah tindakan itu sebagian bagian dari penyingkiran peran perempuan dalam seni ataupun ada alasan lainnya. Mengapa sampai laki – laki harus mengubah identitas gendernya. Informasi ini tidak banyak didapat mengapa itu bisa terjadi. Tapi apapun alasannya bahwa ini menjadi bukti bahwa laki - laki ada budaya di Aceh yang mengubah identitas gendernya. Walau hanya sebatas dalam penampilan dalam panggung seni.

Tapi sayangnya seni musik ini kurang begitu populer dimasyarakat Aceh sebagai sebuah keberagaman musik dan bukti adanya identitas gender lainnya.

Budaya seni mob-mob kembali lagi ditunjukkan dalam penampilan budaya Aceh lainnya pada malam ini. Kelompok yang tergabung dalam komunitas waria dan gay di kota Banda Aceh ikut menampilkan sebuah tarian malam ini. Tarian yang disebut dengan Laweut yang berasal dari kata Selawat. Tarian ini berisi puji-pujian kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Tarian ini umumnya dibawahkan oleh perempuan, sehingga tarian ini biasa sebut tarian Seudati Inong (perempuan).

Malam itu tarian Laweut itu berbeda daripada umumnya karena dibawahkan oleh seorang laki-laki yang berpenampilan perempuan. Kita tidak sedang memperdebatkan soal identitas gender dan homoseksualnya para penarinya. Karena itu dua hal yang berbeda antara menari dengan politik identitas seseorang. Tapi bahwa tarian itu tidak selalu dibawahkan oleh perempuan, itu sebuah bukti dan fakta adanya.

Pada malam itu acara dilaksanakan di pelataran Cafe de Helsinsky dengan dihadiri sekitar 300 orang. Pennampilan itu pada umumnya mendapatkan sambutan yang meria dari para pengunjung. Minimal dari beberapa pengakuan dari aktivis perempuan yang aku kontak via telpon. Bahwkan ada beberapa anggota millis GWG khusus mengirimkan photo-photo dimana para waria menari. Kalau tidak berlebihan bahwa ini ini bukan hanya tariannya, tetapi karena siapa yang membawahkannya. Seseorang laki – laki yang berpenampilan perempuan. Selain itu setelah acara usai menurut keterangan penarinya banyak mendapatkan apresiasi dari para pengunjung malam itu.

Berita ini menjadi sejarah baru tersendiri di Aceh pada malam itu. Panitia dalam hal ini GWG telah memberikan waktu dan ruang pada kelompok waria dan gay sebuah apresiasi yang sangat besar. Kelompok perempuan di Aceh malam itu telah berhasil menunjukkan bahwa gerakan sosial tidak hanya untuk perempuan saja. Tetapi juga untuk kelompok marginal lainnya, dalam hal ini kelompok homoseksual maupun waria. Sekaligus kelompok perempuan Aceh menunjukkan kepada publik bahwa keberpihakan dan keadilan harus didapat oleh setiap orang, tanpa terkecuali untuk seorang waria.

Malam itu juga akhirnya menjadi berita "khusus" di beberapa media Aceh. Terlepas dari kualitas berita yang masih menempatkan waria streotipe di media Aceh. Berita yang lebih mengedankan stigma buruk pada waria. Ini memang kelakuan para media yang sama sekali tidak memiliki rasa keberpihakan pada kelompok marginal. Tapi minimal berita itu dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua. Bahwa mereka (waria) itu adalah manusia yang juga berhak berpartisipasi untuk pembangunan di bumi Aceh. Mereka (para penari) adalah para putra Aceh. Lahir dan besar di bumi tanah rencong. Fakta yang tidak dapat diingkari oleh semua orang. Bahkan sebagian penarinya juga adalah orang Aceh yang sama sekali tidak pernah “tersentuh” dengan budaya luar. Kecuali melalui televisi.

Memang kita tahu bahwa keberadaan kelompok homoseksual dan waria pra/ pasca bencana tsunami masih mendapatkan diskriminasi di segala aspek kehidupan. Bahkan mungkin sekali waria dan homoseksual sudah ada sebelum Islam masuk di bumi Aceh.

Memang selama ini diskriminasi yang dialami oleh kelompok ini bukan hanya terjadi di bumi Aceh, tetapi diwilayah Indonesia umumnya. Bahkan diseluruh wilayah dunia. Misalnya masih adanya kelompok waria dan homoseksual dikriminalkan sebagai manusia yang salah. Terutama di negara – negara yang berbasis Islam, seperti Iran misalnya. Label tidak bermoral dan dosa selalu dilekatkan oleh kelompok ini. Tidak terkecuali juga terjadi di bumi Aceh.

Setelah penerapan formalisasi syariat Islam Aceh tidak menjadikan kelompok ini mendapatkan perlindungan khusus dari ketidakadilan. Seperti nilai - nilai ajaran Islam yang rahmat bagi sekalian alam, tanpa terkecuali. Islam yang sangat ramah dan penuh dengan kasih sayang masih belum tergambarkan dalam penerapan kebijakan di bumi Aceh. Khususnya pada kelompok ini. Setelah ada kebijakan - kebijakan yang ada di bumi Aceh, waria adalah salah satu kelompok yang selalu dirugikan dalam hal ini. Selain kelompok perempuan yang mendapatkan dampak ketidakadilan bagi kebijakan tersebut. Masih ada kelompok lain misalnya kelompok penganut agama non muslim. Contohnya “tidak ada akes” sama sekali bagi kelompok non muslim untuk keterlibatan politik praktis di bumi Aceh.

Dalam hal ini penulis meyakini bahwa ini bukan salah pada ajaran Islamnya. Tetapi nilai - nilai Islam masih belum terinternalisasi oleh orang - orang yang membuat kebijakan di bumi Aceh. Agama masih dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan dengan membangun politik pencitraan yang sangat kokoh bagi penguasa. Lagi - lagi kelompok marginal dan perempuan lah yang menjadi korbannya.

Misalnya adanya larangan pengusaha salon untuk memotong rambut yang bukan muhrimnya. Ini yang terjadi di kota Banda Aceh. Padahal kita tahu bahwa sebagian teman - teman waria mempunyai usaha salon untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Waria secara jenis kelamin biologis adalah laki-laki sehingga dampaknya tidak dapat melayani perempuan sebagai pelanggannya. Dalam hal ini usaha salon sudah dilabelkan sebagai tempat prostitusi. Padahal bekerja adalah hak setiap orang yang sudah diatur dalam UUD 45. Dan juga merupakan perintah dalam ajaran Islam. Penguasa dalam hal ini di Banda Aceh selain menghilangkan hak kerja waria juga telah melakukan prasangka buruk (pelabelan) kepada pekerja salon di Banda Aceh. Bukankah ini dilarang oleh Allah SWT.

Bukankah kegiatan prostitusi itu bisa terjadi dimana saja, termasuk digedung institusi pemerintah dan lembaga keagamaan yang kata suci. Belum lagi teknologi semakin tinggi prostitusi bisa terjadi dalam ruang dan waktu yang sangat luas. Artinya kalau memang prostitusi itu terjadi pada satu tempat, bukan lantas menyamakan yang akhirnya menghilangkan hak kerja sekelompok orang, dalam hal ini waria. Selain tindakan larangan itu tidak sesuai dengan nilai - nilai hak asasi manusia, juga tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Padahal selama ini kita tahu waria juga warga negara yang memberikan kontribusi pada masyarakat maupun negara. Minimal usaha salon itu membayar pajak atau zakat dibumi Aceh. Waria selama hanya ditempatkan pada ruang - ruang non formal saja, misalnya salon. Ini membuat akses kerja waria semakin kecil. Padahal kita tahu bahwa waria juga mempunyai keahlian lain. Setelah bekerja di salon pun tetap distigma sebagai tempat prostitusi. Kejahatan negara yang sistematis pada kelompok ini. Ruang kerja warga negara yang telah ditutup oleh negara dan masyarakat yang katanya menunjung tinggi nilai - nilai agama.

Momen hari perempuan ini menjadi sebuah proses belajar bersama untuk dapat saling menghargai perbedaan antar sesama manusia. Karena itu adalah bagian dari rahmat Allah SWT. Mudah-mudahan ini menjadi angin segar bagi gerakan HAM di Aceh untuk menjadi lebih baik. Dengan mengakui dan mau bersama berjuang bagi kelompok waria dan homoseksual sebagai satu kesatuan perjuangan penegakan HAM. Bukan perjuangan hak asasi manusia yang parsial. Bukankah ini esensi dari perintah Allah SWT.

Wasalam


Toyo

Menara Eksekutif, 4 Mei 2009




Read more...

Biseksual Dari Aceh

>> Sabtu, 28 Februari 2009

Aku dapat email dari seseorang dan sempat diskusi via telpon. Dia berada di Aceh.
Selamat membaca emailnya :


Dear mas Toyo,

Saya Maman (nama yang sudah diganti oleh Toyo), saat ini berdomisili di Aceh (daerah Spesifik sudah diganti oleh Toyo). Saya adalah seorang biseksual. Saya sudah berkeluarga. Saat ini saya tinggal terpisah dengan istri tapi masih satu propinsi di Aceh. Istri saya bekerja di kota lain dari saya ( Toyo simpan lokasi istri dan profesinya) berprofesi seorang bidan (profesi samaran). Saya berasal dari keluarga muslim yang taat.

Saat ini saya sangat kesepian, bingung dan menderita dengan orientasi seks yang saya alami. Terkadang saya depresi bahkan sempat terlintas ingin bunuh diri karena tidak tahu harus curhat kemana. Sebenarnya saat ini saya sangat mendambakan seorang kekasih orang pria yang dewasa, yang bisa memanjakanku dengan peluk dan kasih sayangnya.
Tapi siapa yang bisa membahagiakanku? Namun..............sulit sekali bagi saya untuk mendapat seorang lelaki yang bisa membagiakanku. Karena akses informasi aktivitas gay di Aceh sangat tertutup. Hal ini disebabkan oleh keadaan tatanan kehidupan sosial yang kuat dipengaruhi dengan dogma agama.

Melalui email ini saya sangat mengharapkan agar mas Toyo dapat memberikan sedikit informasi mengenai aktivitas komunitas gay di Aceh. Kalau bisa diberikan nomor kontak person gay Aceh yang dapat dihubungi. Kriteria pria yang saya dambakan adalah berusia di atas 35 tahun, bisekseksual (perioritas sudah beristri), gagah ( tidak sisi/feminin maksudnya ), bisa menjaga kerahasiaan, terpelajar. Saya tidak ingin orientasi seks saya diketahui oleh masyarakat umum. Apalagi sampai orang tua saya tahu, mungkin mereka bisa meninggal sambil berdiri.

Saya sangat mengharapkan bantuan mas Toyo, saya tidak ingin mengalami peristiwa penganiayaan seperti mas Toyo alami menimpa/terjadi pada saya. Alamat email ini juga saya samarkan dengan nama Budi Setiawan ( nama email juga diganti Toyo ) bukan Maman (nama samaran yang dibuat Toyo). Ini saya lakukan untuk menjaga kerahasiaan.

Info tersebut dapat mas Toyo kirimkan ke email ini atau di sms ke no XXXX XXX XXXX (ini nomor rahasia saya) biasanya saya aktifkan sekitar jam 18.30 sampe jam 19.00 an, atau saat-saat tertentu yang menurut saya aman. Nomor tersebut saya pergunakan untuk curhat dengan teman - teman gay di Jakarta atau tepatnya di wilayah A (salah satu lokasi di Jakarta Toyo ubah juga daerahnya). Karena sebelum pulang ke Aceh saya pernah tinggal di Jakarta


Thanks atas bantuannya.


Salam persaudaraan



Maman (bukan nama asli)


Read more...

Perempuan Aceh Bicara, Bicara Tentang Moralis

>> Selasa, 24 Februari 2009


Mungkin tulisan ini kurang "etis" aku tuangkan. Karena aku akan memberikan masukan pada sebuah buku yang baru saja di luncurkan dari bumi Aceh. Buku itu diterbitkan oleh Unifem bersama LSM Flower Aceh dan beberapa teman - teman aktivis di Aceh. Judul buku tersebut Perempuan Aceh Bicara. Buku itu adalah kumpulan tulisan dan pengalaman aktivis perempuan di Aceh. Dari 17 judul tulisan hanya 5 yang sudah selesai aku baca. Diantaranya tulisan Ibu Nurjanah, Suraiya, Sri Lestari Wahyuningroem ,Cut Hindun dan Ibu Rosni Idham.

Tulisan Sri Lestari Wahyuningroem tentang Cerita Tiga Perempuan di Masa Damai dan tulisan Suraiya tentang Gerakan Perempuan di Aceh Pasca Tsunami,
memang sangat kuat pesan feminisnya yang diperjuangkan. Disamping juga tulisan Cut Hindun soal lingkungan hidup. Untuk tulisan Nurjanah Ismail ada beberapa catatan yang akan aku akan sampaikan dalam waktu yang lain. Karena tulisan itu ada kaitan dengan tulisan Ibu Nurjanah lainnya.tentang perkawinan, ada di dalam buku yang diterbitkan oleh GTZ German.


Yang aku kritik tentang tulisan Ibu Rosni Idham
yang berjudul Perempuan Aceh Pasca Tsunami dan Perubahan Identitas Situasi Kultural.

Seperti yang aku sampaikan diawal sebenarnya ada rasa kurang nyaman aku menuliskan ini. Pertama karena aku tahu bahwa maksud dari buku ini diterbitkan untuk membuat sejarah perempuan Aceh. Sejarah yang dibuat dari tangan perempuan Aceh sendiri. Selain itu "proyek" besar ini juga hasil kerja sama antara teman - teman aktivis perempuan yang peduli untuk Aceh. Ini bukan kerja yang mudah.

Sudah beberapa kali membaca lagi tulisan Ibu Rosni Idham. Sampai aku pikir apakah ada yang
salah aku memahaminya? Pikirku. Aku kemudian menanyakan kegelisanku ini dengan mengkontak Suraiya melalui SMS. Dan beliau memberikan apreasiasi atas kritikanku terutama soal isi dari tulisannya. Itu juga lah yang membuat aku lebih berani menulis kritikan ini.

Ditambah semakin sulit lagi setelah aku tahu hasil kerja - kerja penulis untuk bumi Aceh selama ini. Misalnya beliau adalah seorang penyair dan juga "pejuang" untuk perempuan Aceh. Selain itu penulis adalah salah satu perempuan yang mendapatkan ACEH PEACE AWARD 2008 Kategori Promotif dari BRA pada tahun 2008.
[1]

Ini artinya Ibu Rosni Idham bukan perempuan "biasa" dalam gerakan perdamaian di Aceh. Belum lagi dia sosok perempuan yang sudah berumur 56 tahun tetapi masih terus berkarya. Ini luar biasa sekali.

Tetapi kemudian aku berani diri melakukan kritikan atas pikiran dan pandangan penulis
dalam tulisan tersebut. Aku berpikir mungkin ada orang lain yang mempunyai pandangan berbeda dalam melihat persoalan perempuan. Mungkin saja aku berbeda "ideologi" dalam melihat persoalan perempuan dengan penulis. Seperti aku berbeda melihat isu perempuan dari kelompok HTI atau PKS. Yang mungkin sama - sama bekerja untuk hak - hak perempuan. Untuk kali ini aku tidak sedang mengelompokan pemikiran penulis sama dengan PKS atau HTI. Karena aku sendiri tidak ada informasi apapun hubungan penulis dengan dua organisasi tersebut. Minimal apa yang menjadi kegelisahan ku ini dapat dipahami sebagai bagian dari pendidikan kita bersama.


Perempuan Aceh Pasca Tsunami dan Perubahan Identitas Situasi Kultural
By : Rosni Idham


Maksud dari tulisan yang disampaikan penulis ingin menceritakan situasi perempuan Aceh pasca Tsunami. Penulis ini menyampaikan bahwa telah
perubahan status sosial keluarga. Yang sebelumnya sebagai istri pejabat ataupun pengusaha. Tetapi karena bencana Tsunami suaminya menjadi korban yang akhirnya harus bekerja sebagai kepala keluarga pada program Cash for Work. Gambaran itu tergambar pada paragrap awal (hal 15).


Bagaimana perempuan Aceh harus berhadapan pada situasi yang sangat sulit. Yang mungkin tidak terbayangkan oleh perempuan sebelumnya. Harus berjuang memenuhi hidupnya dan anak - anaknya sehari - hari. Beratnya perempuan bekerja “sedikit’ tergambar dalam tulisan penulis.

Sayangnya penulis tidak banyak membahas lebih banyak bahwa ini adalah salah satu dampak dari sistem budaya dan tafsir agama yang menempatkan perempuan sebagai sub ordinat (orang nomor dua dari laki – laki). Ini dampak yang sekarang dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh perempuan Aceh dari ketidakadilan yang dialami perempuan selama ini secara sistematis. Dalam budaya maupun tafsir agama yang misoginis (benci terhadap perempuan).


Karena perempuan sudah dibentuk secara budaya dan tafsir agama sebagai Ibu Rumah Tangga dalam keluarga. Tapi kenyataannya sekarang dalam situasi yang digambarkan oleh penulis banyak perempuan di Meulaboh “tidak siap” untuk menjadi kepala rumah tangga. Sayang sekali pembahasan yang mendalam soal ini sama sekali tidak muncul. Apalagi membandingkan kondisi laki - laki yang lebih "siap" bekerja mencari nafkah diluar pasca Tsunami dibandingkan perempuan. Karena memang laki - laki sudah disiapkan bekerja diranah publik secara sosial. Ulasan – ulasan ini sama sekali tidak muncul dalam tulisannya.

Kemudian yang paling menggelisakan pada tulisan itu, melihat persoalan perubahan identitas perempuan Aceh pasca Tsunami. Penulis begitu kuat menggunakan nilai - nilai partriaki dalam melihat tubuh perempuan Aceh. Persoalan tubuh perempuan Aceh dilihat dari pandangan moral partriaki. Misalnya ada beberapa kalimat dalam tulisan tersebut mengungkapkan situasi perempuan Aceh ; khususnya pada paragrap – paragraph terakhir. Ini beberapa potongan tulisan Ibu Rosni Idham dalam buku Perempuan Aceh Bicara.[2]


1. Saat ini telah ditemukan banyak perempuan dan gadis Aceh dalam praktek kehidupan sehari - hari sudah terkontaminasi budaya asing (hal 19). Adat budaya leluhur sudah diremehkan. Hidup dengan rasa sosial sudah diabaikan.

2. Para Gadis dengan pakaian minim (ketat dan singkat), rambut tergurai, jalan bergandengan tangan dengan lawan jenis tanpa sungkan. Dibeberapa lokasi tepi pantai telah menjadi arena percintaan. Tanpa rasa malu di tonton oleh banyak orang muda mudi berpelukan. Gaya hidup materialistis sudah menggejala.(hal 19)

3.Perempuan Aceh Pasca Tsunami banyak yang kurang peduli sesama. Tidak mampu mengadopsi perasaan orang lain (tidak ada rasa empati). (hal 19 - 20).

4. Perampuan sekarang tidak segan - segan mengkhinati teman seprofesi. Bahkan menempu cara - cara yang tidak bermoral, berani bertindak nekat memfitnah dan menyusun berbagai strategi, rekayasa dan menyelesaikan guna menjatuhkan teman kemudian menggantikan posisinya, walaupun tidak berkapasitas untuk posisi itu (hal 20). Kemudian tertawa terbahak - bahak setelah rekayasa itu berhasil dibangun. Berani menebar fitnah yang dapat merugikan orang lain secara moral dan financial.

5. Perilaku semacam itu bukan budaya perempuan Aceh. Sikap tersebut identik dengan pegangkangan adat budaya dan prinsip sosial yang berlaku ditengah – tengah realitas hidup rakyat Aceh yang bermantabat.

6. Bahwa situasi itu harus dipulihkan dengan cara memberikan pelatihan terhadap pengurus organisasi perempuan berbasis kepada konsep diri perempuan Aceh. hal 20.

7. Aceh ku Sayang, Aceh ku Malang, kondisi rakyatnya telah mulai mencabik - cabik akar budaya leluhurnya. Telah menginjak - injak tradisi dan adat istiadat yang berakar dan tetap tumbuh ditengah kehidupan masyarakat.

8. Dengan pemberlakuan Syariat Islam sesungguhnya semakin memperkuat kehidupan adat dan budaya Aceh. Karena adapt Aceh dengan ajaran agama Islam yang dianut rakyatnya tidak saling bertentangan. Berjalan seiring bagai zat dan sifat. Hal 20


9. Agar perempuan Aceh pasca Tsunami tetap konsisten tampil dalam bingkai adat dan budaya yang terawat, maka seluruh masyarakat melakukan…………….ada 7 point.


10. Maka jadilah perempuan yang memiliki jati diri dan kepribadian yang terpuji. Tidak muda diombang – ambing oleh gelombang zaman yang memabukkan dan menyesatkan. (hal 21)


Dari ungkapan dan pandangan penulis ini masih sangat kuat sekali budaya partriakinya. Ibu Rosni menempatkan perempuan sebagai objek yang harus diatur moralnya untuk menyelamatkan budaya Aceh yang katanya agung tersebut. Selain itu penulis mencari “kambing hitam” dengan menyalahkan budaya asing. Budaya diluar Aceh.


Padahal tidak semua budaya asing itu buruk dan tidak semua budaya Aceh juga baik. Kalau boleh jujur Syariat Islam yang kita pahami sekarang juga dipengaruhi oleh budaya diluar Aceh (Asing). Budaya Arab.Karena budaya dimanapun tidak akan mungkin tumbuh sendiri tanpa ada inkulturisasi dari budaya lain nya. Jadi kalau akhirnya menyalahkan budaya asing aku pikir penulis tidak bijaksana melihatnya.


Kecenderungan menyalahkan budaya diluar memang sering kita lakukan apabila ada hal yang kurang baik menurut kita. Sering sekali terjadi. Kita selalu menganggap bahwa budaya kita adalah budaya yang baik dan cocok bagi masyarakat tertentu. Padahal apakah memang benar begitu? Benarkah suatu budaya itu akan pasti tepat dan cocok dalam satu masyarakat yang hidup dengan budaya itu. Mungkin cocok bagi pemangku adat atau penguasa. Tapi belum tentu cocok bagi perempuan, anak dan kelompok minoritas dalam budaya tersebut. Kita bisa lihat bagaimana banyak budaya yang ada dimanapun selalu menempatkan perempuan sebagai mahkluk sub ordinat.


Tidak hanya budaya Barat, Indonesia, Aceh ataupun budaya Arab. Semuanya pada umumnya selalu menempatkan perempuan pada posisi yang marginal. Walau aku tidak napikan masih ada hal yang baiknya. Sehingga gaung pemberdayaan perempuan dengan pendekatan kearifan lokal perlu dilihat kembali. Karena yang lokal tidak selalu arif bagi perempuan, anak dan kelompok minoritas.


Persoalan banyak perempuan Aceh yang menjadi materialitis itu juga terjadi dikalangan budaya mana pun. Baik dimasyarakat Aceh maupun masyarakat di luar Aceh. Bentuk nya bisa macam – macam. Ada yang senang bersolek dengan menggunakan parfum yang harganya sampai jutaan rupiah. Jadi bukan hanya menggunakan baju ketat saja. Tapi “budaya” jilbab dan pakaian tertutup/terbuka bagi perempuan juga ‘sebagian” dari korban neoliberalisme. Dalam hal ini lagi – lagi tubuh perempuan lah yang akan menjadi media komoditinya.


Kita tahu ada banyak jilbab dijual di Aceh dengan harga sampai ratusan ribu rupiah. Hanya untuk 1 lembar jilbab penutup kepala. Hal yang tidak bisa aku pikir dalam kondisi masyarakat Aceh yang miskin. Tetapi sayangnya ini ini jarang sekali dipersoalkan oleh banyak orang apalagi sampai pada kebijakan Qanun, termasuk penulis (Rosni Idham)?


Belum lagi misalnya harga mukenah (kain penutup pada perempuan waktu sholat) yang harganya sampai jutaan rupiah per buah. Padahal kita tahu bahwa ajaran Islam “anti” dengan hal – hal yang berlebihan. Aku tidak sedang mendebatkan soal jilbab dengan pakaian ketat/minim. Bagiku sama saja apabila perempuan dijadikan komiditi baik dengan jilbab maupun pakaian ketat yang super mahal itu. Itu sama buruknya.


Budaya hemat sendiri bukan cuma ada di adat Aceh dan ajaran Islam saja. Tetapi disemua adat dan ajaran agama lainnya juga ada. Kita kadang tertegun dengan orang – orang Barat yang sering kita sebut “Kafir” itu. Mereka adalah individu – individu yang sudah “cerdas” untuk menentukan mana kebutuhan yang harus dibeli nya dan mana tidak perlu. Serangan globalisasi sudah dapat mereka saring mana yang penting bagi diri nya dan mana yang tidak. Walau kita tahu globalisasi menyerang siapapun baik di Aceh diluar Aceh. Termasuk orang Barat sendiri. Sistem pendidikan di Barat membuat mereka lebih bisa kritis untuk dapat menentukan sikap dalam membeli suatu barang.


Jika kita sebagai orang Aceh dan kita sebagai seorang muslim tidak patut mencontohnya? Hanya karena mereka berasal dari Barat??

Kalau kita yakin bahwa Syariat Islam adalah sebuah aturan baik yang datang dari Allah SWT. Mestinya aturan itu menjadi rahmat bagi sekalian alam. Bukan kah itu ajaran Islam yang sebenarnya.


Tapi kalau kita terkulai dan “terbius” dengan kata Syariat Islam sebagai hal yang formal saja tetapi lupa bagaimana Syariat Islam itu dioperasionalkan dalam kehidupan sehari – hari? Misalnya bagaimana Qanun – Qanun yang dihasilkan berdampak terhadap perempuan dan kelompok minoritas di Aceh?? Kalau kita lupa dan tidak kritis akan itu maka kita akan hidup dalam kenistaan. Kita tidak akan peduli pada mereka yang terdiskriminasi dan termarginalkan atas penerapan Qanun – Qanun di bumi Aceh.


Itu mungkin kritikanku atas buku Perempuan Aceh Bicara. Khususnya untuk tulisan Ibu Rosni Idham. Semangat tulisannya menurut ku masih sangat misoginis. Jika tujuan buku ini sebagai pencatat sejarah bagi perempuan Aceh. Seharusnya tulisan seperti ini mesti dilihat kembali. Apakah “layak” untuk ditempatkan sebagai media untuk menorehkan sejarah perjuangan perempuan Aceh kedepan.


Tanpa mengurangi rasa hormat ku kepada Kak Suraiya Kamaruzzaman, Flower Aceh, Kak Sri Lestari Wahyuningroem, Kak Khairani Arifin, Kak Fatimah Syam dan Unifem. Kupersembahkan kritikan ini kepada mereka. Dan kepada Ibu Rosni Idham terus berkarya. Aku tunggu puisinya tentang kehidupan Waria di Aceh.



Wasalam


Hartoyo

Feminis Laki – Laki Alumni FP Unsyiah


[1] http://achehpress.com/www.php/news/id/3079/Siapa-Penerima-Perempuan-Aceh-Peace-Award-2008.jp

[2] Perempuan Aceh Bicara, UNIFEM

Read more...