Diskusi homoseksualitas

>> Minggu, 25 Januari 2009

Dialog ini terbit di milis Indo-Marxis pada tahun 1999.

Dari "Sosialisme di Dunia Moderen":

Kita juga harus melawan penindasan terhadap kaum homoseksual dan lesbian (gay). Kaum gay seringkali dikambing-hitamkan sebagai biang keladi dari masalah-masalah sosial, padahal justru mereka yang menjadi korban.

Penindasan terhadap kaum gay juga berkaitan dengan keperluan sistem kapitalis untuk memproduksi tenaga kerja dan struktur-struktur ideologis lewat keluarga "normal". Orang yang tidak menyesuaikan diri untuk memainkan peranan sebagai laki-laki atau perempuan "normal" dianggap sebagai ancaman terhadap ketertiban sosial. Prasangka ini tercerminkan pula dalam struktur-struktur sosial-budaya, dimana kaum gay dianggap tidak senonoh, dan bisa di-PHK, dipukul, bahkan dibunuh lantaran gaya hidup mereka yang lain.

Sebetulnya kita semua dirugikan oleh situasi ini, karena terpaksa kita harus hidup menurut pola tindak-tanduk yang kelewat sempit (konservatif). Makanya, semestinya kita menyambut dengan antusias munculnya organisasi gay dewasa ini yang memperjuangkan hak-hak mereka.

Surat-menyurat dari milis "Indo-Marxis":

Dari seorang peserta: "Aku tertarik dengan permasalahan gay. Sekarang ini kaum homoseksual sudah banyak keluar', menunjukkan diri mereka sebenarnya, misalnya di salah satu >acara tv swasta (sorry lupa) yang pesertanya banyak gay. Dari penganut agama yang fanatik jelas sulit menerima kehadiran mereka, bahkan di keluarga pun banyak yang dikucilkan. Ini tentu tak lepas dari sistem negara kita yang tidak memberi tempat bagi kaum homoseksual (bahkan cross-dressing pun tidak bisa diterima! Padahal perempuan bebas memakai baju laki-laki, tapi kalau laki-laki memakai rok, atau daster?)."

Julian: Hak perempuan untuk pakai celana juga harus diperjuangkan; saya masih ingat pada tahun 1970 ada seorang cewek kulit hitam yang bekerja di tempat saya juga kerja; dia orang kulit hitam yang pertama yang boleh bekerja di perusahaan tersebut (ini di Amerika). Dan dia muncul dengan celana jeans. Karena masalah ras begitu peka, kaum majikan tidak berani melarang celana jeans itu. Itu pertama kali mereka izinkan perempuan memakai celana.

"Aku kurang paham kaitannya dengan kapitalisme."

Julian: Beberapa pikiran dulu, nanti saya cari data dan referensi. Hal ini sudah menjadi perdebatan yang kompleks. Tapi pada dasarnya saya kira soal ini berkaitan dengan penindasan terhadap perempuan. Peranan laki-laki dan perempuan masing-masing ditentukan secara keras oleh tatanan sosial yang ada (itu kami jelaskan dalam teks tentang masalah gender). Sehingga seseorang yang tidak menerima peranan tersebut dianggap mengancam tatanan sosial. Jadi segala macam pantangan dikembangkan oleh pemerintah, lembaga-lembaga agama dsb dan kemudian menjadi sebagian dari ideologi kapitalisme.

Kiriman tambahan dari Julian:

Saya diminta memberi penjelesan tentang hubungan antara kapitalisme dan penindasan terhadap kaum gay, dengan referensi. Dalam balasan pertama saya tulis bahwa ini berkaitan dengan penindasan terhadap perempuan. Peranan laki-laki dan perempuan masing-masing ditentukan oleh tatanan sosial (melalui mekanisme-mekanisme yang cukup kompleks tentunya) dan fenomena homosekual-lesbian tidak bisa ditolerir karena melanggar batasan antara peranan itu.

Dan saya baru temukan sebuah referensi yang menarik. Komentar yang berikut saya ambil dari Jeffrey Weeks, "Capitalism and the Organisation of Sex", dalam "Homosexuality: Power and Politics", Allison & Busby, London, 1980.

Di Inggeris, homoseksualitas tidak dilarang sebelum tahun 1885. (Setelah tahun itupun, para lesbian tidak dihiraukan sama sekali.) Yang dilarang adalah bersodomi, tetapi itu juga ilegal buat para heteroseksual. Di sini kita sudah melihat satu aspek yang penting: sodomi tentu saja diharamkan karena hubungan seks dianggap sesuatu yang dimadsudkan untuk bikin anak, dalam konteks perkawakinan antara lelaki dan perempuan, supaya harta si lelaki bisa diwariskan dsb.

Meski demikian, homoseksualitas baru menjadi masalah besar setelah timbulnya kapitalisme. Menurut Jeffrey Weeks, seorang ahli di bidang ini yang berhaluan kiri: "sejak pertengahan abad XVIII bentuk keluarga monogami dan heteroseks semakin ditekankan dalam ideologi borjuis sebagai unit dasar dalam masyarakat. Masyarakat beralih dari model keluarga yang menekankan garis silsilah dan reproduksi tradisi keluarga (sehingga yang penting adalah memilih calon istri/suami dari keluarga lain yang sesuai) kepada sebuah model yang menekankan pilihan pribadi berdasarkan keinginan emosional. Sekurang-kurangnya dalam ideologi, yang menyatukan keluarga itu adalah cinta dan seks ... Tekanan ini asal-usulnya bisa ditemukan dalam perkembangan ekonomi (pemisahan kaum perempuan dari kerja sosial), ideologi (tekanan yang lebih besar pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan serta konstruksi sosial dari sifat-sifat "kelelakian" dan "kewanitaan") dan politik (karena keluarga selama abad XIX dilihat sebagai faktor pokok bagi menjamin kestabilan serta mengurangi ketegangan sosial, dan sebagai tempat berlindung pribadi yang damai dan tenteram) ..."

Homoseksual(itas) sebagai identitas (dan istilah homoksekual itu sendiri) baru muncul pada saat itu.

Komentar dari Dede Oetomo:

Kw. Julian yang budiman

Secara umum, penindasan terhadap apa yang sekarang kita kenal dengan konsep homoseksualitas, perilaku homoseksual, dan kaum gay, lesbian dan biseksual, dihubungkan dengan institusi keluarga (n.b. heteroseksual) di dalam kapitalisme. Dalam hal ini kita mengikuti pemikiran Marxis yang diuraikan Engels dalam tulisannya "The Origin of the Family, Private Property and the State". Ideologi keluarga, hak milik pribadi dan negara inilah yang mengharamkan homoseksualitas, karena bertentangan dengan asas bahwa keluarga sebagai institusi ekonomi dalam sistem kapitalis bersifat heteroseksual dan monogami.

Perlu juga diingat dalam hubungannya dengan kapitalisme adanya dan dipertahankannya fetisyisme perbedaan homoseksual-heteroseksual itu sendiri, padahal kita tahu bahwa dalam kenyataan keadaannya jauh lebih kompleks daripada dikotomi seperti itu. Fetisyisme ini juga menindas mereka yang sebetulnya tidak patut atau tidak pas dikotakkan dalam satu orientasi seksual atau yang lainnya, melainkan memiliki kompleksitas sendiri.

Kajian yang sedang ditulis mengenai homoseksualitas di Indonesia, oleh Thomas Boellstorff di Universitas Stanford, jelas menunjukkan bahwa penindasan bagi mereka yang telanjur terjebak dalam kekakuan identitas tadi berbentuk heteroseksisme, yakni ideologi dominan bahwa hanya hubungan heteroseksual monogam di dalam keluarga-lah yang sah.

Untuk meninjau masyarakat seperti Indonesia, di mana ada berbagai formasi sosial sekaligus, perlu dibedakan dalam formasi sosial mana seseorang yang berperilaku homoseksual, berorientasi homoseksual ataupun beridentitas homoseksual/gay berada. Dalam hal ini kajian yang komprehensif telah dilakukan dan diterbitkan dalam _New Left Review_ (No. 218, July/August 1996) oleh Peter Drucker, berjudul "'In the Tropics There Is No Sin': Sexuality and Gay-Lesbian Movements in the Third World" (hal. 75-101).

Dengan merujuk pada kajian Drucker itu, dapatlah kita pahami bahwa karena Indonesia lama berada dalam sistem kapitalisme kolonialis dan imperialis, maka banyak aspek homoseksualitas yang terpengaruh, misalnya saja fetisyisme pemujaan terhadap gay putih/barat yang berlebihan. Juga dikesampingkan, ditutup-tutupi atau dilecehkannya bentuk-bentuk homoseksualitas (yang kadang melibatkan transgenderisme) dari formasi-formasi sosial prakapitalis.

Akan halnya penindasan dari berbagai agama besar, perlu dicatat bahwa komunitas agama-agama ini juga tergulung dalam perkembangan kapitalisme, sehingga moralitas seksual modern-nya juga amat kuat menindas apa-apa yang dipandang antiheteroseksisme, antikeluarga. Di pihak lain, masih ada juga moralitas seksual dari formasi sosial prakapitalis, yang menimbulkan penindasan yang berbentuk lain pula.

Keanekaragaman formasi sosial, konstruksi seksualitas dan penindasannya itulah yang acapkali membingungkan orang yang hendak membicarakan homoseksualitas dan kapitalisme di negeri-negeri macam Indonesia.

Tak boleh dilupakan juga berpikir secara dialektis: perlawanan terhadap heteroseksisme, menumpang industri budaya populer a la Hollywood, juga menumpang kapitalisme datang ke sini. Hal ini pulalah yang membuat kondisi, dan tentunya analisis, menjadi makin kompleks.

Salam demokrasi!

Dede Oetomo

Read more...

Kampung Lanang

Oleh Antok


Aku tatap tulisan di gapura, Selamat Datang di Kampung Lanang. Sejuk angin pegunungan menyapu tengkuk. Desaunya seolah mengabarkan bahwa aku telah tiba di tempat tujuan. Penat menguap. Aku merasakan harapan hadir secerah mentari di musim semi.

Mataku menangkap dua orang satpam yang berjaga di samping portal. Keduanya asik bercengkrama. Rokok kretek di tangan kanan dan secangkir kopi di tangan kiri. Tawa mereka memburai penuh bahagia.

"Tolong tunjukkan KTP, Anda". Suara berat satpam yang berbadan dempal terdengar tegas. Ekor matanya mencuri pandang ke wajahku. Aku tergugup sambil menyerahkan KTP. Aku mendengar ia bergumam,"Antok…Madiun, 07 Juni 1981."

"Ada keperluan apa?" satpam yang satunya ikut bersuara.

"Aku mencari diri aku," aku menukas singkat.

Sejenak satpam itu menatapku sesaat. Aku melihat ada sebuah pengertian yang dalam di matanya. Dia ambil nafas sejenak, "Kamu berada di tempat yang tepat. Silakan masuk ke laboratorium, " satpam itu mengembalikan KTP dan menyuruhku masuk ke bangunan sederhana di samping pos satpam.

Seorang pemuda tampan berusia dua puluhan menyambutku dengan sesungging senyuman. Jemari tangannya sibuk memilin-milin ujung rambut agar berdiri seperti landak.

"Silakan masuk. Kalau nanti kamu mendengar bunyi alarm, itu berarti proses analisa selesai," ujarnya tenang.

Aku amati jemari tangan pemuda itu yang beralih ke keyboard komputer. Dengan ragu aku masuk ke ruangan yang berlabel Gay Laboratorium.

Gelap menyergap. Aku turunkan ransel hitam dari punggung. Kugerak-gerakkan badan untuk menghilangkan pegal.

Byar! Lampu menyala. Aku terbelalak dalam rasa tak percaya. Ruangan tiga kali empat meter ini dipenuhi gambar laki-laki telanjang. Dinding, atap, bahkan lantai yang kupijak penuh gambar erotis laki-laki dengan berbagai posisi.. Wajah-wajah tampan, tubuh-tubuh kekar dan penis-penis menantang.

Byar! Aku tersentak untuk kedua kalinya. Televisi layar datar yang menyatu dengan dinding berpendar menampakkan adegan blue film. Suara desah nafas yang di produksi memacu degup jantungku. Syaraf-syaraf di tubuhku memekar dan membangkitkan gejolak hasrat diri. Tanpa sadar, penisku sontak ereksi.

Kemudian terdengar alarm berbunyi dan lampu kembali mati. Aku keluar ruangan dengan perasaan lempang. Pemuda itu kembali menyambutku dengan wajah sumringah.

"Aku Leo. Kalau perlu apa-apa, silakan datang ke sini," katanya sambil menjulurkan tangannya.

"Aku Antok," kami berjabat tangan. Leo menyerahkan beberapa brosur. Pintu laboratorium terbuka. Seorang bule masuk dan menghampiri Leo. Aku beranjak dari Gay Laboratorium.

Larik-larik sinar matahari menyusut tergerus senja. Bayang-bayang menjadi lisut. Daun-daun cemara bergerak ringan. Kabut mulai turun dari puncak gunung dan menghadirkan segurat dingin di kulit.

Aku tapakkan kaki menekuri jalan beraspal. Di kanan dan kiri jalan berjajar rumah tradisional bersanding dengan rumah modern bergaya minimalis. Semua orang yang kutemui adalah laki-laki. Kehangatan terpancar pada wajah mereka.. Setiap kali beradu pandang, mereka selalu menyuguhkan senyuman.

Saat melewati rumah joglo, sayup-sayup aku mendengar seseorang nembang Nyidam Sari.

"Umpama sliramu sekar melati, aku kumbang nyidam sari. Umpama sliramu margi, cah manis, aku kang bakal nglewati.".

Penginapan Kukila.

"Menginap berapa hari?"

"Tiga hari dua malam."

"Sendirian?" resepsionis itu menatapku tajam.

"Ya," sahutku singkat.

"Ini selimut untuk menghangatkan tidur Anda," sang resepsionis menyerahkan sebuah album bersampul hitam.

Aku mengernyit. Aku membuka album dengan hati-hati. Aku mengelus dada. Aku lihat wajah-wajah tampan terdokumentasi dalam foto telanjang. Di bawah foto tertulis keterangan jenis permainan ranjang sekaligus ukuran kejantanan.

Padang pasir.

Kedua tangan dan kakiku terikat di tiang kayu. Panas matahari memanggang kulitku hingga matang. Aku telanjang, hanya cawat warna hitam melekat di pinggang. Aku kuyu dalam kepasrahan.

Ratusan orang berjubah dan bersurban putih mengelilingiku dari berbagai penjuru. Suara mereka mendengung bagai sekawanan lebah.

"Rajam! rajam! rajam!"

Masing-masing orang membawa batu di tangan dan siap melempari tubuhku sebagai sasaran.

Hatiku berkecamuk dalam pemberontakan tak berujung, namun bibirku terkatup rapat. Tak ada suara yang keluar. Aku berteriak dalam kebisuan.

Seorang laki-laki tua mengepalkan tangannya, "Raajaaammm! !!"

Batu-batu beterbangan. Hujaman demi hujaman mengenai tubuhku. Wajah, leher, dada, perut, paha dan kakiku banjir darah. Pedih dan perih menyusup hingga ke sukma. Tak ada asa. Aku lunglai tak berdaya.

Tiba-tiba berkelebat empat sinar putih menyelubungi tubuhku. Silau memekatkan mata, ringan menyelimuti badan. Tubuhku terangkat ke angkasa, meninggalkan orang-orang berjubah dan bersurban putih yang kesetanan melempari aku dengan bebatuan. Dalam ketidaksadaran, berulangkali aku menyebut nama Tuhan.

Aku terbaring di atas awan putih. Empat sinar putih itu perlahan memadat dan menghadirkan sosok-sosok yang sangat aku rindukan. Kekasih-kekasih dari masa lalu yang hadir kembali di detik ini. Puteri, Ahmad, Tirtana dan Angga. Air mataku merembes membasahi pipi. Mereka tidak bersuara. Wajah mereka yang penuh cinta telah banyak berbicara. Dengan telaten mereka mengobati lukaku.

"Tak ada yang perlu kamu takutkan, Tok".

Secepat aliran listrik, suara itu menembus gendang telingaku. Perasaanku meledak. Suara yang sangat aku hafal. Suara orang yang aku rindukan pagi, siang dan malam. Aku mendongak. Aku melihat almarhum bapak tersenyum damai.

Aku tergeragap dengan nafas tersengal-sengal. Peluh bercucuran di sekujur badan. Aku lepaskan kaos singlet sambil menatap jam dinding. Pukul setengah dua belas malam. Aku baru saja bermimpi. Aku bangkit dari pembaringan dan mereguk air mineral. Aku hela nafas panjang. Separah itukah ketakutan aku hingga terbawa ke dalam mimpi?

Hening.

Pikiranku berselancar bebas. Aku ingat Pak John. Sahabat pena yang asli Amerika tapi menetap lama di Indoesia. Di puncak kegelisahan kala mencintai laki-laki dan perempuan, Pak John membalas emailku dengan jawaban mengejutkan:

Kamu harus ke Kampung Lanang. Di sana banyak cermin untuk merefleksikan diri. Hatimu harus dibuka. Barangkali di sana kamu menemukan kuncinya.

Kampung Lanang. Aku sama sekali tak tahu bahwa ada kampung khusus gay di Indonesia sebelumnya. Berdasar petunjuk Pak John, lengkap dengan peta perjalanan, aku memutuskan untuk mengambil cuti kerja dan pergi ke Kampung Lanang. Sekarang aku sudah di Kampung Lanang. Tapi mengapa aku tetap merasa terbuang?

Aku membuka jendela. Semilir angin malam berhembus pelan. Dadaku terasa dingin oleh sapuannya. Dari kejauhan aku melihat sebuah keramaian. Obor-obor menyala terang. Irama salsa menghentak di tengah keriuhan.

Aku meninggalkan jendela dan bergegas membuka pintu kamar. Aku panggil office boy yang nampak di ujung barisan kamar.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?".

"Tadi aku lihat ada keramaian. Ada acara apa?"

"Oh, itu pesta lajang. Besok Mas Galuh menikah. Malam ini diadakan pesta lajang. Kalau berminat silakan ke sana. Terbuka untuk umum, kok."

Pintu kamar depanku terbuka. Tampak seorang pemuda seusiaku keluar sambil menenteng sweater. Ia tersenyum ramah.

"Saya permisi dulu Pak," office boy itu tersenyum hangat lalu berjalan ke ruang depan.

"Aku akan ke sana. Mau ikut?" pemuda itu mengulurkan tangannya, "Aku Indra."

"Aku Antok. Kalau tidak keberatan, aku mau ikut. Tapi aku harus ganti baju dulu. Tunggu sebentar, ya" Aku berbalik masuk ke kamar dan berganti pakaian..

Hatiku terbelah. Separuh merasa bahagia dan separuh lainnya merasa hampa. Cinta gemerlap dalam ekspresi kebebasan. Sesama laki-laki saling menyapa, berpegangan tangan, berangkulan dan berciuman. Tidak ada larangan, tapi aku merasa kehadiranku tak lebih sebagai alien yang takjub pada keindahan bumi. Aku tetap teralienasi.

Musik mengalun silih berganti. Go go boys menggoyang-goyangka n badan dalam balutan g-string di panggung terbuka. Makanan dan minuman tumpah ruah di atas meja prasmanan.

Indra sibuk menyapa sahabat-sahabatnya. Calon pengantin duduk manis dengan senyum mengembang. Malam kian larut, aku semakin merasa kalut. Di sudut halaman, berteman pelayan yang berseliweran, aku menjadi penonton dari epos hidup yang melenakan.

"Tak ada yang perlu kamu takutkan, Tok."

Aku menoleh. Seorang laki-laki berusia lima puluhan tahu-tahu sudah berada di sampingku. Ia tersenyum hangat. Aura wajahnya cerah. Sinar matanya memantul jernih layaknya oase di tengah sahara.

"Mengingkari kata hati memang melelahkan. Tapi hidup harus terus berjalan, kan?" Ia menepuk-nepuk pundakku. Barangkali ia seorang avatar yang mampu membaca pikiran seseorang.

"Aku tetap tidak mengerti."

"Kamu tidak harus mengerti. Kamu hanya perlu memahami. Pertanyaan dan jawaban hadir pada saat bersamaan. Kuncinya ada di sini. Tinggal keberanianmu untuk membukanya," telunjuknya menyentuh dadaku. Aku terkesiap. Saat mata kami beradu, aku merasakan hangat merambat memenuhi relung-relung batinku.

"Tok, gabung sini, yuk!" Aku berpaling. Aku lihat Indra berteriak sambil melambaikan tangan. Beberapa sahabatnya menjadi partisipan dengan tertawa riang.

"Aku pergi," kata-kataku menggantung di lidah. Laki-laki itu sudah tidak ada di sampingku. Aku lihat tubuhnya terselip di antara kerumunan orang.

Aku mencoba tersenyum. Bersama Indra dan sahabat-sahabatnya, aku berusaha untuk tertawa. Mereka semua bahagia. Untuk apa aku mesti berduka?

Hampir subuh ketika aku putuskan untuk kembali ke penginapan. Tubuhku terasa ringan. Beban di hatiku hilang. Aku kembali menemukan harapan.

"Indra, kenapa keamanan di kampung ini ketat sekali?" Aku puaskan rasa penasaran aku sebelum masuk ke kamar.

"Dulu sempat ada perusuh yang memporakporandakan kampung ini dengan mengatasnamakan agama. Ceritanya panjang. Kapan-kapan aku ceritakan".

"Terima kasih. Sampai ketemu nanti malam."

"Sama-sama".

Pukul tujuh malam. Suara gamelan mengalun dari kejauhan. Semua orang keluar rumah dan berjalan beriringan menuju alun-alun. Aku tidak berhenti mengagumi. Betapa wajah-wajah yang kutemui begitu ceria nan bahagia.

Janur kuning melambai di sekeliling alun-alun. Di sudut kanan alun-alun berdiri panggung sederhana dengan dekorasi rangkaian bunga. Dua kursi pelaminan telah disiapkan. Di samping panggung nampak pemuda-pemuda sibuk merias diri mereka.

Indra menemui pengantin. Aku menolak saat dia ajak. Aku memilih menikmati suasana sembari membeber makna. Aku bercermin dan berharap menemukan pantulan jernih di dalamnya.

Orang-orang berkerumun membentuk setengah lingkaran. Empat penari jathilan masuk ke dalam lapangan. Tangan mereka gemulai memainkan selendang warna keemasan. Kuda kepang di bawah pinggang bergerak ringan mengikuti goyangan badan. Bibir merah, kumis tipis dan lirikan mata mengerling indah. Orang-orang bertepuk tangan, riuh sorakan menggetarkan lapangan.

Keempat penari melepaskan selendang dari pinggang. Lantas mereka menghampiri dua orang warok yang berdiri di tepi lapangan. Penari itu mengalungkan selendang ke leher warok. Kedua warok itu sejenak mencium kening pasangan gemblaknya lalu bersiap mengangkat dadak merak.

Dua orang warok unjuk kepiawaian memainkan reog. Geliat tubuh tangguh berpadu hentakan dadak merak membuat semua mata terhipnotis dalam rasa kagum. Orang-orang semakin histeris. Tepukan, teriakan dan siulan melebur menjadi satu.

Masing-masing warok lalu berjalan ke kanan dan ke kiri. Iring-iringan pengantin menyambutnya dengan taburan bunga. Kedua warok merunduk. Kedua pengantin yang berpakaian serba putih naik ke atas kepala reog. Kedua warok kembali berdiri dan berjalan ke tengah lapangan. Kedua warok berputar-putar. Senyum bahagia terpancar dari kedua pengantin. Sekian lamanya kedua pengantin menebar pesona di atas geliat reog. Lalu kedua warok berjalan ke bibir panggung dan menurunkan kedua pengantin tepat di depan kursi pelaminan. Empat manggala menjemput kedua pengantin dan menyandingkan di kursi pelaminan.

Ketua Kampung Lanang memberi sambutan, "Malam ini kita menjadi saksi sebuah cinta abadi. Kedua laki-laki telah bertemu. Kedua hati telah menyatu. Sekarang saatnya merayakan indahnya cinta. Kampung Lanang kembali mencatat sejarah baru tentang ketulusan hati dua orang laki-laki. Selamat kepada kedua mempelai."

Tepuk tangan menggebrak alam raya. Aku hanya bisa menganga. Apakah aku masih di dunia? Oh, keindahan ini tampak begitu nyata.

Seorang kiai setengah baya di dampingi pasangan mairilan yang nampak lebih muda, naik ke atas panggung.

Senyap.

Sejenak ia melantunkan sebarit doa. Lalu ia membimbing kedua mempelai mengucapkan janji saling setia. Sesudahnya, kedua mempelai berciuman mesra.

Tepuk tangan dan siutan kembali riuh. Kedua mempelai nampak tersipu malu. Genggaman tangan erat dan senyum hangat menebar ke penjuru alun-alun.

Seorang penyair tampil di panggung. Rambut gondrong, bertelanjang dada dan bercelana komprang hitam. Liat tubuhnya yang kekar terlihat mengkilat oleh pantulan cahaya. Ia mengambil nafas panjang sebelum berdeklamasi.

Wahai sang cinta

Bangkitlah!

Jiwa-jiwa yang alpa

Bangunlah!

Api telah membeku

Salju telah terbakar

Senjakala menggema,"Bebaskan! ".

Kepalkan kedua tangan

Rengkuh gemuruh kemenangan

Di sini, jiwa telah bermuara

Tiba saatnya merayakan cinta

Sang Penyair kemudian turun dari panggung. Orang-orang merapat ke bibir panggung. Seorang bocah laki-laki naik ke panggung sambil mendekap setangkup bunga mawar dan menyerahkan pada kedua mempelai.

Kedua mempelai kembali berciuman lalu membalikkan badan. Orang-orang berteriak histeris. Aku hanya diam di tengah kerumunan orang. Serentak semua orang menghitung mundur.

"Tiga, dua, satu!"

Wajahku terhujam dan dengan reflek aku mencengkeram. Aku tidak percaya, di tanganku tergenggam setangkup bunga mawar merah yang sangat harum.

Orang-orang bertepuk tangan. Semua mata tertuju ke arahku.

"Selamat, ya."

Orang-orang sibuk mengucapkan selamat. Aku tak tahu arti semua ini. Mengapa aku? Bukankah aku tak mengharapkan apa-apa?.

Dari kejauhan tampak Indra tergopoh-gopoh menemuiku.

"Selamat ya, Tok. Semoga kamu segera mendapatkan pasangan yang kamu idamkan". Aku bengong. Tak tahu cara untuk ngomong.

Kedua mempelai kembali duduk di kursi pelaminan. Seorang waria tampil menyanyi lipsyc When you tell me that you love me. Orang-orang menyebar ke barisan meja makan.

"Makan yuk, Tok!"

Aku ikuti langkah Indra yang santai menikmati suasana pesta.Aku tidak tertarik makan nasi. Aku hanya mengambil sepotong roti dan segelas kecil wine.

"Mereka itu siapa?" mataku tertuju pada sekelompok orang di dekat panggung pelaminan.

"Mereka tamu undangan. Emm ... pasangan lesbian, perwakilan waria, bissu, shaman, guru silat dan murid-muridnya. Kamu lihat bule itu. Nah, kalau bule itu datang dari Inggris dan Belanda," Indra sibuk menerangkan sembari menyeruput orange juice.

Malam menebarkan aroma kegembiraan. Bulan sepenggalah menggantung di langit.. Bintang gemintang mengerdip dalam pancaran cahaya terang. Ketulusan mengalir jernih. Tak ada kemunafikan. Kampung Lanang meregang dalam kebahagiaan.

Cermin-cermin memantulkan sosok-sosok nyata. Setiap mata memandang, aku menemukan kejelasan. Kabut suram perlahan tersingkap. Aku adalah mereka. Jiwa-jiwa mungil yang menemukan jalan pulang ke rumah penuh kedamaian.

Tengah malam di penginapan Kukila.

Aku duduk bersila. Kedua tangan melekat di paha membentuk posisi meditasi. Kedua mataku terpejam. Perlahan aku mengatur nafas, bersiap melakukan perjalanan astral. Pikiran dan perasaan aku bebaskan. Masa lalu dan masa depan aku kesampingkan. Aku berkonsentrasi pada kekinian. Aku menjelajah jiwa dan membuka misteri di dalamnya.

Aku sebagai Antok lenyap. Aku sebagai aku hadir. Tubuh tidak lagi memenjara.. Aku menjauh dari gempita dunia. Getar-getar halus merambat pelan. Tak ada beban. Seperti kapas, aku melayang ringan.

Kabut menyusut menjadi embun. Aku menyatu dengan kejernihan. Segala sesuatu hadir dan mengalir apa adanya. Aku adalah angin, hujan, awan, bebatuan dan lautan. Aku adalah hasrat, keinginan, harapan sekaligus tujuan. Aku adalah ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan. Aku adalah aku. Aku adalah Cinta.

Labirin kecil bergetar dan menyuarakan sesuatu,

tak ada yang perlu kamu takutkan Tok.

Aku terhenyak. Aku mendengar suara hatiku sendiri.

Aku membuka mata. Kelegaan membanjir dalam perasaan. Cahaya kehidupan menebar penuh gemerlap kebahagiaan. Aku menyadari, aku telah menemukan diriku kembali.

"Antok!". Aku menoleh. Aku lihat Leo berlari-lari kecil keluar dari Gay Laboratorium.

"Ada apa, Leo?".

"Ada bingkisan buat Mas Antok," Leo menyerahkan sebuah bingkisan terbungkus kertas karton coklat.

"Bingkisan dari siapa?".

"Mas Antok pasti tahu. Dia melarang aku untuk memberitahu. Aku pergi dulu, ya". Leo kembali ke Gay Laboratorium. Bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih.

Dia? Aku berpikir. Tidak mungkin Indra karena tadi pagi aku sudah pamit. Perlahan aku buka bungkus karton. Aku mengeja judul buku yang ada di dalamnya, "Memberi Suara pada yang Bisu".

Aku membatin. Sudah saatnya aku bersuara. Tidak ada alasan bagi aku untuk terus membisu. Sejenak aku menatap gapura. Terima kasih Kampung Lanang. Akhirnya aku menemukan jalan pulang.

Gresik, 01122007, 07.58 AM.

Read more...

Kebijakan "Banci"

>> Jumat, 23 Januari 2009

Baru - baru ada diskusi di Metro Tv acara Partai Bicara, soal kebijakan BUMN yang dilakukan oleh pemerintah. Hadir pada acara itu partai Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) dan ada 3 orang pengamat. Pengamat berfungsi menanyakan hal - hal yang dipaparkan oleh Partai dalam hal ini PDP. Selain itu juga penonton dapat menanyakan juga kepada partai.

Salah satu orang pengamat Ibu Aviliani memaparkan kesimpulan dari acara tersebut bahwa selama ini kebijakan pemerintah soal kebijakan BUMN adalah kebijakan yang "Banci". Aku waktu langsung terkaget dengan kata itu. Penggunaan kata banci ditekankan dua kali kepada ibu Aviliani untuk menekankan bahwa kebijakan pemerintah tidak jelas amburadul dan buruk intinya.
Ini bukan kali pertama kata banci digunakan untuk menunjukkan hal tidak beres.

Dalam film Pertaruhan yang digarap oleh Kalyanashira foundation yang sekarang menjadi nominasi film festival di German. Ada juga satu adegan pengungkapan kata kebijakan banci. Kata itu di ucapkan oleh seorang aktivis perempuan. Ibu Ninuk yang bekerja di Yayasan Kesehatan Perempuan. Ibu ninuk dalam film menyatakan bahwa kebijakan pemerintah soal kesehatan masih "banci". Lagi - lagi ibu ninuk menggunakan kata banci untuk menekankan bahwa kebijakan pemerintah soal kesehatan tidak benar dan tidak jelas. Sama dengan yang dimaksud oleh Ibu Aviliani pengamat ekonomi.

Selesai pemutaran film, aku menyampaikan kepada Nia Dinata selaku produser film Pertaruha. Tapi lagi - lagi jawabannya bahwa mungkin adegan itu tidak ada maksud untuk merendahkan kelompok lain. Dalam hal ini kelompok "banci". Mungkin juga sama alasannya disampaikan oleh pengamat ekonomi tersebut. Iya memang aku pikir tidak ada maksud untuk merendahkan kelompok lain secara sadar. Tapi secara tidak sadar ada persoalan "besar" bagi kelompok yang disebut banci itu. Kalyanashira sendiri sebagai sebuah organisasi yang mengklaim berjuang untuk hak - hak kelompok LGBTIQ lolos untuk memperhatikan itu.

Memang penggunakan kata - kata banci sendiri juga sering digunakan bagi kelompok LGBTIQ. Tapi lagi - lagi hanya untuk merendahkan orang lain. Misalnya pada kasus seorang teman yang tidak baik bertindak, maka dalam pergaulan gay khususnya akan mengatakan "dasar banci" lambat sekali kerjanya. Walau hanya guyonan...sesama teman. Kata banci memang bukan kata yang positif dalam masyarakat Indonesia.

Baik Ibu Ninuk maupun Ibu Aviliani juga bagian dari mereproduksi apa yang dilakukan oleh banyak orang di Indonesia. Memang dilihat sisi positip nya ini menunjukkan bahwa keberadaaan LGBTIQ khususnya "banci" sudah diakui keberadaan. Tapi diakui sebagai orang yang "salah"/menyimpang.


Kata yang terus digunakan bahwa Banci = salah. Maka ini berdampak pada pandangan masyarakat sendiri terhadap waria dalam kehidupan sosial. Kita tahu bahwa banci selalu merujuk pada seorang transgender dalam hal ini waria.
Kita lihat sendiri bagaimana waria benar - benar diperlakukan tidak manusiawi selama ini. Bahkan kekekarasan demi kekerasan menjadi kehidupan sehari - hari teman - teman waria. Tidak jarang sampai kematian yang harus diterima seorang waria.

Dari pengalaman itu menjadi penting bahwa membangun kesadaran masing - masing orang untuk dapat mengubah penggunaan kata - kata yang mengarah melecehkan pihak lain.
Apalagi disampaikan untuk publik, ini akan membuat publik semakin meyakini bahwa waria itu memang tidak benar dan salah.


Sehingga siapapun mulai sekarang untuk lebih berhati - hati untuk menggunakan kata - kata dalam kalimat.
Khusus untuk Kalyanashira, karena film Pertaruhan belum diedarkan menjadi VCD atau DVD. Saya berharap adegan pada kata "Banci" untuk dapat dihilangkan. Sehingga film pertaruhan akan menjadi lengkap sebagai film pendidikan bagi publik bagi setiap orang.
Mudah2an permintaan ini dapat ditindak lanjuti oleh pihak Kalyanashira. Semua ini untuk memajukan gerakan LGBTIQ di Indonesia sebagai bagian dari perjuangan hak - hak asasi manusia.


Wasalam


Toyo

Jakarta, 24 Januari 2009

Read more...

Masa Tua Gay

>> Kamis, 22 Januari 2009

Surat dari bapak eghozan di millis Jurnal perempuan

Mas toyo dan teman - teman, saya tidak benci dengan yg dinamakan homoseksualitas. Namun ada pertanyaan yg mengganjal dihati saya.

Apakah tidak ingin diusia senja kita ditemani oleh anak, cucu dan cicit tercinta?

Betul ada bayi tabung...betul ada adopsi.....betul ada pantai jompo......dsb.
Dikala tangan sudah tidak lagi mampu untuk membersihkan BAK......dan kaki sudah tidak dapat diajak lagi kompromi untuk sekedar menikmati udara dipagi hari.

Apakah tidak rindu dengan tangis dan rengekan...bahkan coretan - coretan didinding.....serta tanah lumpur yg mengotori lantai sisa mainan?

Pertanyaan yang disampaikan oleh Pak Eghozan memang bukan hanya beliau saja tetapi pasti ada banyak orang memikirkan hal yang sama. Bahkan teman - teman kelompok homoseksual sendiri.

Alasan tidak ingin hidup sendiri pada masa tua membuat banyak homoseksual memutuskan untuk menikah dengan perempuan. Memang itu bukan pilihan yang salah bagi setiap orang. Seorang anak memang yang selalu diimpikan oleh semua orang.

Kalau ditanya secara pribadi aku adalah orang yang mimpi memiliki anak. Aku suka anak yang bisa aku ajak tukar pikiran dan ngobrol hal - hal yang pribadi.
Tapi aku melihat anak itu dalam konteks yang berbeda. Maksud aku yang dinamakan anak tidak harus berasal biologis. Artinya bisa berasal dari anak "biologis atau non biologis". Aku belajar membuang image bahwa "anak biologis" itu lebih dari anak "non biologis".
Bagi ku anak ya anak, seorang manusia yang tidak perlu dipersoalkan dari mana asal biologis nya. Mau dari seorang PSK ataupun orang miskin. Kalau dia memang membutuhkan kasih sayang maka aku harus menyayangi nya.

Selain itu tidak semua pasangan homoseksual itu mau adopsi anak. Tapi pasangan homoseksual juga yang banyak yang adopsi anak. Bahkan ada yang sampai menikah anak - anaknya.
Sama seperti pasangan heteroseksual, ada yang ingin menikah karena ingin punya anak atau tidak. Sehingga kehidupan sosial homoseksual sama saja dengan kehidupan heteroseksual untuk mendidik anak - anaknya.


Wasalam



Toyo

Read more...

Pilihan Atau Genetis

Pertama, dunia kedokteran dan psikologi sudah sepakat bahwa dari segi ilmiah
homoseksualitas bukan penyakit. Kesimpulan ini tampaknya didasarkan pada temuan
ilmiah di bidang neurosains yang memperlihatkan bahwa rata-rata kaum homo memiliki nukleus interstisial ketiga yang ukurannya lebih kecil daripada yang dimiliki kaum hetero.
Nukleus interstisial ini letaknya di bagian depan hipotalamus di dalam otak, yang fungsinya menentukan pembedaan seks. Jadi, ukurannya lebih kecil, dan ukuran kecil ini tidak berarti "lebih inferior' hanya karena kecil, tetapi ya sekadar berbeda saja.


Sama seperti otak Einstein yang ukuran lobula parietal dalam otaknya lebih besar dan bentuknya tak lazim dibandingkan rata-rata manusia lain. Lobula parietal ini fungsinya terkait
dengan kemampuan berhitung dan penalaran spasial. Berbeda, tapi tidak lalu disebut sebagai "penyimpangan" , apalagi "penyakit."


Nah, jika demikianlah struktur, ukuran dan bentuk bagian-bagian otak terkait tersebut, maka perilaku manusianya pun digerakkan dan ditentukan oleh bangunan spesifik otaknya itu. Jadi, bisa saja seorang homoseksual mengira dirinya menjadi homo sebagai "pilihan hidup" yang dibuat secara sadar. Namun, sesungguhnya, pilihan itu diarahkan dan ditentukan oleh struktur nukelus interstisial otaknya yang mengatur seksualitas dirinya. Artinya, pilihan lain daripada itu adalah out of the question. Sama halnya seorang heteroseksual yang mengira dia secara sadar memilih jadi heteroseksual. Jika mau pun, belum tentu dia bisa jadi praktisi homoseksualitas dalam artian sesungguhnya, sebab itu tak nyambung dengan otaknya yang mengatur seluruh tubuh serta kesadarannya.


Dengan demikian, homoseksualitas dan juga heteroseksualitas bukanlah sesuatu
yang diperoleh dari proses learning. Dia sudah built-in dalam otak kita. Wacana bahwa homoseksualitas adalah "pilihan hidup" sebetulnya lahir dari upaya untuk melawan stereotipe dan diskiriminasi sebagai akibat dari penyalahgunaan terhadap temuan bahwa seksualitas itu genetik sifatnya. Akibat temuan ini, orang-orang dengan itikad tak baik lalu menjadikannya alasan untuk mengatakan bahwa kaum homo "sakit jiwa" dan "menyimpang" . Maka sebagai suatu sikap politis, sejumlah tokoh aktivis gay/lesbian memproklamirkan bahwa seksualitas
mereka adalah pilihan hidup mereka. Tapi, hingga kini belum ada temuan ilmiah dari ilmu manapun yang bisa membuktikan tesis bahwa (homo)seksualitas adalah "pilihan hidup."


Pilihan hidup kita didikte oleh apa yang mungkin dan tak mungkin dikerjakan
oleh otak kita, dan otak kita itu given alias genetik. Kita saja yang sering lupa bahwa kesadaran kita sesungguhnya dibentuk oleh otak, dan bukan merupakan sesuatu yang terletak di luar otak.



Manneke Budiman
Program Doktoral Canada

Walau teori ini masih juga diperdebatkan (Toyo), ini hanya sebagai wacana terus.

Read more...

DPR Janjikan Penghapusan Diskriminasi Waria

Kamis, 22/01/2009 13:06 WIB
Komisi IX DPR Janjikan Penghapusan Diskriminasi Waria

Elvan Dany Sutrisno - detikNews

Jakarta - Komisi IX DPR berjanji akan menyelesaikan keluhan puluhan waria yang mendatangi Gedung DPR, Senayan. Para waria itu mengeluhkan diskriminasi khususnya dalam pekerjaan.

"Kita akan perjuangkan, setiap ingat ini saya sampai menangis, mana kesejahteraan kita?" kata anggota Komisi IX dari Fraksi PDIP Sonny Sumarsono di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (22/1/2009).

Sonny mengaku sampai harus meninggalkan rapat komisi untuk menemui puluhan waria yang tergabung dalam Forum Komunikasi Waria Indonesia itu. Selain Sonny, dalam pertemuan itu hadir juga, Rustam Efendi dari fraksi PAN dan Rudianto Chan dari Fraksi PDIP.

"Jangan khawatir, status anda jelas setelah forum ini kami dari Komisi IX akan beri rekomendasi, " katanya.

Sementara itu, Rustam Efendi berjanji akan menyelesaikan masalah diskriminasi tenaga keja dan kesejahteraan yang dihadapi para waria.

"Masalah tenaga kerja dan kesejahteraan nanti kita akan coba selesaikan," katanya.

Para waria ini mengeluhkan berbagai diskriminasi yang diterimanya. Diskriminasi itu terjadi di berbagai bidang seperti sosial, ekonomi dan juga kesempatan kerja. (nal/iy)


Mudah2an ini tidak hanya janji mau dekati pemilu (Toyo)

Read more...

Ingat Malam Itu Toyo.....

Malam ini aku menunggu hari akan berganti. Malam yang penuh kenangan pahit sekaligus penuh arti dalam hidupku. Jarum jam terus berputar di tangan kananku. Sengaja aku menunggu detik - detik pergantian ini. Hari ini tanggal 21 Januari 2009. Waktupun tepat menunjukkan pukul 00.00 Wib. Ingatan ku melayang kembali pada dua tahun yang lalu.

Malam ini sudah menjadi ritual bagi diriku untuk tidak akan melupakan kejadian pada tanggal 21 Januari 2007 di Banda Aceh. Jika orang dapat merayakan hari ulang tahun, maka aku mengingat hari dimana seksualitasku telah dihancurkan atas nama moral.
Sudah tahun kedua ini aku selalu melakukan ritual ini. Ritual yang selalu aku ingat dan aku ingat. Aku tidak tahu alasan mengapa selalu melakukan ini. Rasa ingin terus melakukannya ada dalam hatiku. Apakah ini bentuk kemarahanku atau justru ini bagian dari titik balik perjuangan hidupku? Aku sendiri sulit untuk menjawabnya. Aku sudah catat dalam bukuku sebelum malam ini datang. Setiap pergantian tahun tanggal 20 ke 21 Januari akan selalu aku beri tulisan. Ingat Malam Itu Toyo..

Ini memang bukan tanggal lahirku. tapi ini adalah hari dimana menjadi momen untuk aku semakin menguatkan perjuanganku. Perjuangan seorang gay atas hak hidup nya dan komunitasnya.

Iya, ini adalah hari dimana aku disiksa oleh masyarakat dan Polisi Banda Raya Banda Aceh 2 tahun yang lalu. Dimana aku dipukul, dipaksa oral, dikencingi. Yang semua itu dilakukan oleh 7 orang aparat kepolisian. Perbuatan yang tidak akan pernah aku lupakan.
Bukan cuma polisi dan masyarakat tapi sebagian LSM juga membenarkan apa yang aku alami. Mereka jijik melihat aku hanya karena aku bercinta dan memaduh kasih sayang sesama jenis.
Iya karena aku Gay.


Tapi dua tahun ini juga aku telah mendapatkan banyak "hadiah" untuk menebus penderitaan ku ini, diantaranya:

1. Baru saja pengadilan memutuskan pelakunya pada tanggal 8 Oktober 2008. Walau hanya 4 orang yang diadili. Walau cuma pidana ringan putusan hakim tunggal. Iya, kasus penyiksaan pelakunya polisi hanya masuk dalam pidana ringan. Ini lah pengadilan Indonesia..Pengadilan yang tidak ada rasa adil bagi korban. Sejarah itu tidak akan pernah aku lupakan kapan pun dalam hidup ku. Aku sudah lekatkan dalam - dalam serta masukan disetiap sel tubuh ku.
Jangan pernah kamu lupakan Toyo...

2. Teman - temanku gay di Aceh sudah berhasil membuat organisasi gay, ya Violet grey namanya. Dimana gay di Aceh sudah berani teriak bersama untuk keadilan. Yang sebelumnya tidak pernah berani untuk meneriakan itu.

3. Our Voice juga sudah mulai ada di jakarta sebagai LSM untuk teman - teman gay dan biseksual.

4. Ada berhasil lain aku berhasil menuliskan pengalaman hidup sebagai seorang gay. Yang aku tuangkan dalam buku berjudul; Biarkan Aku Memilih, pengakuan seorang gay yang coming Out. Yang akan lounching dan terbit pada bulan Maret 09. Dan semua orang dapat mengakses buku tersebut di toko buku terdekat. Termasuk para pelaku penyiksaan diriku dan hakim tunggal persidanganku Sugeng Budianto, SH.

5. Ada hadiah terakhir bahwa aku sudah mempunyai blog pribadi, dengan alamat http://gerakan-gay.blogspot.com, dimana aku bebas meneriakan keadilan bagi diriku dan kelompok gay diseluruh Indonesia.

Tuhan terima kasih, dua tahun ini sudah banyak perkembangan yang aku rasakan untuk diri ku dan teman - temanku. Walau aku tahu keadilan itu masih sangat jauh aku dan teman - teman gapai. Tapi aku akan selalu lakukan dan terus lakukan.
Hari ini aku berharap peringatan ini akan terulang lagi pada tahun berikutnya. Sehingga akan semakin banyak perubahan yang lebih baik bagi kelompok gay di Indonesia.



Wasalam


Toyo

Kalibata, 21 - 22 Januari 09

Read more...