Top, Bottom dan Vers

>> Selasa, 20 Januari 2009

Andi: Hay..
Toyo : Hay too, jawab ku
Andi : Asl and stat?
Toyo : 31, single, jakarta, 170 cm dan 65 kg, jawab ku pula..
Andi : top / bot?
Toyo : Ver, ke top, jawab ku

Itu biasa petikan chat yang dilakukan oleh komunitas gay dalam dunia internet. Mempertanyaan umur, lokasi, tinggi badan dan berat badan selalu ditanyakan oleh kedua orang gay. Internet memang menjadi media untuk saling komunikasi antar teman sesama gay. Melalui internet lah dapat menjalin hubungan persahabatan, cinta bahkan sampai sex. Memang ini juga banyak dilakukan oleh kelompok heteroseksual juga, interner sebagai media mencari teman dan pasangan.


Mempertanyakan umur dan status seseorang memang akan menjadi "biasa" bagi orang yang sedang berkenalan dan tidak bertatap muka. Tetapi menanyakan apakah anda top, bot ataupun versitale, itu menjadi persoalan bagi diri ku sendiri? Top diartikan seorang gay yang memerankan prilaku seksual sebagai subjek penetrasi. Sedangkan bot dari kata bottom adalah seorang gay akan "menerima" penetrasi (dianal sex). Sedangkan versitile adalah seorang gay yang dapat memerankan prilaku seksualnya keduanya. Baik sebagai penetrasi ataupun sebaliknya. Sehingga ada lagi seorang selalu ditempatkan sebagai Top Pure ataupun bot pure.

Pelabelan tersebut sampai sekarang masih saja terus mengakar dalam pikiran teman - teman gay di seluruh Indonesia bahkan di dunia. Tapi lagi - lagi pelabelan itu bukan sebatas label. Ada dampak dari itu semua. Biasanya seorang gay yang Top akan merasa lebih baik daripada versitale, begitu juga versitale akan merasa lebih baik daripada bottom.
Dan dalam tindakan prilaku sehari - hari seorang yang Top akan berperan macho dan maskulin. Sedangkan kalau bottom selalu diidentikan dengan feminin.
Tidak sedikit teman - teman gay yang bottom akan mengatakan dirinya versitale. Padahal dia adalah bottom hanya karena dia tidak mau dilabelkan rendah. Walau sudah mulai banyak gay lebih percaya diri mengatakan dirinya adalah bottom.

Jarang pasangan gay yang berhubungan dengan Top dan Top atau bot dengan bot. Kecuali vers dengan vers. Hubungan selalu dengan Top dan Bot, Top dengan vers atau ver dengan bot. Tapi intinya harus ada yang memerankan Top dan bot dalam pasangannya. Jadi ibaratnya harus ada yang "menjadi" laki - laki dan perempuan. Padahal hubungan homoseksual sudah keluar dari mainstrem seksualitas yaitu heteroseksual. Tapi lingkaran itu tetap saja masuk dalam lingkaran hubungan heterosentris.

Pengkotakan hubungan top dan bot, ini menunjukkan bahwa ada beberapa hal yang dapat dianalisa :

1. Pasangan gay (antara top dan bot), masih terperangkap dalam pandangan heterosentris yang partriakis. Artinya bahwa hubungan prilaku seksual itu harus ada melakukan penetrasi. Ini konsep yang diadopsi dalam hubungan heteroseksual. Bahwa kenikmatan seksual hanya akan terjadi kalau dilakukan dengan penetrasi.

2. Bahwa maskulin lebih berharga atau lebih baik dari feminin. Ini menunjukkan bahwa konsep partriaki masih mengakar dalam pikiran disetiap gay. Bahwa seseorang yang macho dan maskulin akan menjadi seorang gay yang bernilai dan akhirnya selalu dilabelkan sebagai role sex nya sebagai Top.

3. Bahwa pandangan seksualitas itu cair masih belum banyak dipahami. Sehingga apabila seorang gay akan berusaha menempatkan dirinya sebagai role sexnya sebagai apa? apakah top, biseks ataupun bottom. Padahal kenikmatan sex bukan hanya melalui penetrasi saja. Banyak variasi sex yang bisa dilakukan.

4. Ada pelabelan sendiri bahwa maskulin = Top, dan Bot = Feminin. Ini menunjukkan ada pemisahan identitas yang jelas antara Top dan Bot. Padahal ada banyak seorang yang feminin juga dapat menjadi Top. Seperti seorang waria juga dapat melakukan sebagai top atau seorang yang macho juga sebagai bot.

Sehingga menjadi penting untuk memberikan pendidikan seksualitas pada kelompok LGBTIQ mengenai seksualitas dan gender.


Wasalam

Read more...

Gender Ketiga

Pertanyaan pengunjung :
Tuhan cuma ciptain 2 ( satu laki satu perempuan), nah kalo yang kaya beginian neh sebutan dari tuhan kira2 apa mas?

Jawaban Toyo :

Secara biologis memang jenis kelamin itu ada dua (penis - laki - laki dan vagina - perempuan). Itu memang sekarang disepakati oleh negara. Tetapi kalangan feminis dan ilmu sosial lainnya, mulai mendefinisikan kembali bahwa dalam menentukan jenis kelamin tidak hanya berkaitan dengan biologis saja. Tetapi jenis kelamin juga menyangkut soal psikologis, emosi dsb. Misalnya sekarang ada kelompok transgender (waria ataupun kelompok butch). Waria merasa dirinya bukan perempuan dan bukan laki - laki. Ada istilah gender ketiga. Dan ada juga orang yang punya dua jenis kelamin (intersex). Tetapi sekarang harus di operasi untuk dapat ditentukan salah satu jenis kelamin.

Kalau soal orientasi seksual (homoseksual, biseksual dan heteroseksual). Itu bukan menyangkut jenis kelamin (laki - laki dan perempuan). Jadi semua orang baik laki - laki maupun perempuan itu bisa memilih orientasi seksual heteroseksual, homoseksual maupun biseksual.

Mudah2an jawaban ini dapat membantu kebingungan teman - teman.


Wasalam


Toyo

Read more...

Butch, Femme dan Androgini (Lesbian)

Saya baru saja melihat film pertaruhan yang didalamnya ada cerita buruh migran di Hongkong. Cerita dua orang perempuan yang menjalin kasih sesama perempuan. Iya adegan pasangan lesbian. Sebuah gerakan revolusioner seksualitas dalam deretan cerita film tersebut.
Yang merupakan bagian hak - hak seksual perempuan. Film itu berhasil mengangkat isu lesbian dengan baik sehingga menjadi isu yang lebih populis bagi publik.

Dalam film itu diceritakan dua perempuan yang (maskulin) berpacaran dengan perempuan (feminin). Hubungan pasangan lesbian yang macho dan feminin memang banyak terjadi dalam relasi pasangan lesbian. Sosok perempuan yang maskulin/macho yang biasa disebut dengan Butch berpasangan dengan perempuan yang feminin yang disebut dengan Femme. Butch akan berperan aktif secara seksual sedangkan yang femme sebaliknya.

Bahkan ada sebagian butch mengaku tidak mau disentuh oleh pasangan femme nya. Sampai ada yang paling radikal seorang butch tidak mau membuka bajunya pada saat berhubungan sex. Alasannya akan terlihat payudaranya yang besar dan adanya vagina. Maka ada banyak kejadian seorang butch akan berusaha menekan dengan berbagai cara agar payudaranya tidak membesar.

Termasuk membalutnya dengan kain atau menggunakan baju berlapis. Simbol - simbol keperempuanan biasanya paling tidak disukai. Seperti rok, lipstik, rambut panjang dan bra. Sehingga sebagian kelompok butch menggunakan istilah untuk dirinya "terperangkap tubuh yang salah". Maksudnya merasa diri laki - laki tetapi tubuhnya perempuan.

Menurut penelitian Prof Saskia ( ahli seksualitas dari Belanda), bahwa dari 10 butch yang diteliti di Indonesia. Dan mereka adalah dekat anggota Koalisi Perempuan Indonesia. Bahwa 9 orang merasa diri tidak nyaman bergabung dengan banyak perempuan. Dan satu lagi mengaku bahwa dirinya adalah laki - laki.

Sehingga peran - peran domestik yang diperankan oleh butch hampir sama yang dilakukan oleh laki - laki heteroseksual (suami). Merasa diri kuat, melindungi dan sosok partriaki lainya. Begitu juga bagi yang Femme akan menjadi "istri" yang baik dengan cara diam, penurut dan lemah lembut. Peran - peran itu persis yang kita lihat dalam film Pertaruhan pada film pertama soal pasangan lesbian buruh migran di Hongkong. Sehingga sebutan papa - mama/ayah - bunda juga dilekatkan pada butch - Femme kalau kita temui sehari - hari di Indonesia.

Sangat jarang sekali seorang butch akan berpacaran dengan butch, begitu juga sebaliknya. Pemisahan itu secara otomatis sangat kuat. Tetapi disisi lain ada kelompok lesbian lain yang dapat memerankan keduanya yang biasa disebut dengan Androgini. Artinya seorang perempuan yang dapat aktif dan pasif dalam seksualitas (dapat menyentuh dan disentuh). Sehingga androgini dapat membangun relasi dengan seorang butch, femme maupun androgini sendiri.

Istilah butch dan femme ini sebetulnya merupakan wacana dan konsep “kuno” yang dulu awalnya digunakan oleh kelompok-kelompok lesbian kelas pekerja di Amerika yang memanfaatkan waktu senggangnya di bar-bar. Sejarahnya istilah ini dipakai pada tahun 1940-an sampai 1960-an dan memang dimaksudkan untuk membedakan lesbian yang berpenampilan lebih maskulin/tomboy dengan istilah butch, dan lesbian yang berpenampilan feminin dengan istilah femme. Malah ada salah satu bar lesbian di Massachusetts yang memisahkan kamar kecilnya dengan tanda pada depan pintunya "butches" dan "femmes” (David Bianco, Butch – Femme Culture ). Sebuah imitasi yang sangat berlaku umum untuk kaum hetero yang memisahkan toiletnya dengan tulisan ”Laki-laki” dan ”Perempuan”.(http://satudunia.oneworld.net/?q=node/2039)

Gerakan lesbian memberikan kontribusi yang besar soal pelabelan itu. Sebagian aktivis lesbian mengkampanyekan bahwa pelabelan itu menjadi tidak penting untuk membedakan peran - peran sosial. Yang lebih penting adalah menyangkut relasi hubungan yang setara dan adil. Tidak jarang aktivis lesbian Indonesia menjalin pasangan butch dan butch atau Femme dan Femme. Pada umumnya teman - teman aktivis lesbian meyakini bahwa seksualitas manusia itu sangat cair (dapat berubah - ubah), termasuk juga soal orientasi seksual.

Pelabelan jika terus dikokoh apalagi pada peran - peran sosial maka akan berdampak pada diskriminasi dan kekerasan. Sehingga ada banyak kasus kekerasan yang terjadi pada pasangan lesbian. Yang dilakukan oleh Butch kepada pasangan Femme nya.


Karena dalam sebagian pikiran seorang Butch bahwa dia adalah laki - laki yang punya kekuatan untuk mengontrol pasanganya (Femme). Ini lah yang banyak terjadi sekarang dikalangan pasangan Lesbian. Ini yang sekarang didobrak oleh aktivis lesbian soal kekerasan dalam pasangan lesbian. Jadi konsep dan pikiran heterosentris (terpusat pada heteroseksual) dan partriakis (laki - laki yang utama) juga masuk dalam pikiran seorang lesbian. Bahwa pasangan manusia itu harus ada yang maskulin - feminin. Maka tidak jarang seorang butch biasanya akan berharap dapat mengubah jenis kelamin nya menjadi laki - laki. Walau tidak semua butch ingin melakukan itu.


Wasalam


Toyo

Mampang, 20 Januari 2009

Read more...

Pernas Waria I

Sekarang diselenggarakan Pertemuan Waria I yang diselenggarakan oleh Yayasan Srikandi Sejati, Forum Komunikasi Waria dan Arus Pelangi. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 18 - 23 Januari 2009 di Jambuwuluk Tapos Bogor. Pernas Waria I ini diikuti oleh 50 orang yang berasal dari 33 propinsi di Indonesia. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Hivos, KPAN dan lembaga donor lainnya.
Ini beberapa cacatan pertamuan hari I yang saya dapat dari Dede Utomo (via millis).

Hari ini materi berkaitan dengan aspek HAM waria (dan juga lesbian, gay dan biseks). Saat ini sedang seru diskusi mengenai pelanggaran2 HAM terhadap waria.

Tadi malam ada sesi penting untuk meluruskan struktur komunitas dan organisasi waria, antara Forum Komunikasi Waria Indonesia, Yayasan Putri Waria Indonesia, serta organisasi yang menangani HAM (Arus Pelangi) maupun organisasi2 yang menangani kesehatan seksual, istimewanya HIV dan IMS, seperti Yayasan Srikandi Sejati. Yang penting ada kesepakatan untuk bersatu dan secara terbuka membagi pekerjaan sesuai dengan kemampuan masing2.

Hari kedua kemarin dibahas sejarah dan silsilah waria (juga LGBT lainnya) di Nusantara. Lalu dilanjutkan dengan situasi HIV di kalangan waria dengan presentasi dari Depkes dan FHI-ASA.

Hari pertama berbentuk pembukaan (sudah dilaporkan oleh Kawan Ryan), yang dilanjutkan dengan diskusi panel dengan berbagai donor (UNFPA, UNAIDS, FHI-ASA dan HCPI).

Dan dari informasi bahwa salah satu kegiatannya akan hearing dengan anggota DPR RI.

Read more...

Gay masih berhubungan dgn perempuan?

Yon's bertanya:

Gay itu masih 'berhubungan' dengan perempuan nggak sih?

Toyo menjawab:
Gay itu sendiri kalau di Indonesia adalah seorang laki - laki yang berhubungan cinta dengan laki - laki. Sebenarnya kalau di International gay juga dapat masuk ke perempuan dengan perempuan. Tapi kemudian perempuan yang suka dengan perempuan namanya lesbian. Sehingga gay untuk homoseksual laki - laki dan lesbian untuk homoseksual perempuan. Kalau untuk gerakan biasanya akan bersatu yang namanya gerakan LGBTIQ

Read more...

Quota 30 % Untuk Siapa

>> Senin, 19 Januari 2009

Selama ini saya ingin bertanya soal hal yang paling dasar adalah apakah caleg perempuan harus selalu aku pilih? Dari latar belakang aku sebagai seorang LGBTIQ ataupun sebagai orang yang peduli dgan hak - hak perempuan.


Selama ini aku kadang ragu dengan kampanye isu quota 30 % bagi perempuan. Apalagi sampai ada kampanye perempuan pilih perempuan... Awalnya aku sempat gak mau tanya dan komplain soal kebijakan ini. Karena ada rasa takut kalau aku mau tanya di forum - forum diskusi. Takut salah dan dianggap partriarki lah..


Tapi kemudian rasa bingung dan takut ini ada moment aku diskusikan dengan seorang aktivis perempuan (Mbak Yanti Muchtar). Diskusi itu lumayan membuat aku lebih percaya diri untuk membahas dalam persoalan ini. Sehingga aku dan teman - teman LGBTIQ di Indonesia harus bersikap bagaimana dalam pemilu nanti. Karena jumlah pemilih kelompok LGBTIQ lumayan besar (bahkan bisa jutaan orang).


Persoalanya begini...Aku melihat sekarang isu perempuan selalu diteriakan dimana - mana. Malah kayak jadi jualannya partai politik, mulai yang paling fundamentalis sampai yang katanya partai moderat (pluralis). So sekarang kita bisa lihat sendiri PKS, PPP, PBB, Hanura, Gerindra, Demokrat, Golkar, PKB dan PDIP semua menempatkan perempuan sebagai jualan partainya.

Baru - baru ini Koalisi Perempuan Indonesia melaporkan kepada publik bahwa ada sekitar 500 perempuan anggota KPI yang masuk menjadi caleg diseluruh Indonesia baik ditingkat DPRD tingkat II sampai pusat. Angka yang sangat luar biasa untuk sebuah perubahan. Begitu juga pada saat ini di millis perempuan sedang dibahas oleh para aktivis perempuan bagaimana mencapai quota 30 %. Dari mulai penggalangan dana sampai penggalangan massa. Semua orang berusaha bergerak agar perempuan dapat duduk di legislatif.
Dan jika benar - benar dimanage dengan baik maka aktivis perempuan akan membawah perubahan yang luar biasa bagi Indonesia.

Tapi kemudian pertanyaan kritis saya adalah? Apakah perempuan yang menjadi anggota KPI itu masuk ke partai yang mana?? Apakah partai yang fundamentalis, partai pelaku pelanggaran HAM atau partai yang katanya moderat?? Aku tidak mendapatkan data itu..

Aku sebagai seorang gay dan teman - teman ku kelompok LGBTIQ akan didorong untuk tidak akan memilih caleg perempuan yang berasal dari partai fundamentalis atau partai pelaku pelanggaran HAM. Kami akan memilih laki - laki atau perempuan yang mau berjuang untuk hak - hak kelompok LGBTIQ dan kelompok marginal lainnya. Orang - orang yang berjuang untuk penegakan pluralisme yang demokratis.
Ada banyak kelompok perempuan yang resisten dengan gerakan pluralisme seperti kebebasan beragama dan isu keberagaman seksualitas. Isu itu dianggap isu yang sensitif dan akan berdosa jika memperjuangkannya.

Aku setuju bahwa quota 30 % untuk mendorong perempuan maju. Sehingga akan banyak pilihan yang masuk mulai dari ideologi A - Z. Tapi LSM atau aktivis perempuan tidak mempunyai flat form yang jelas? Misalnya sebaiknya partai apa yang layak dimasukin dan kita pilih nanti? Begitu juga untuk konteks anggota KPI dan dukungan pendanaan yang dilakukan oleh aktivis perempuan. Sehingga diharapkan para caleg perempuan dapat memperjuangkan hak - hak asasi manusia bagi setiap orang. Bukan gerakan sektarian. Kalau perempuan nya pada masuk ke kelompok partai fundamentalis maka gerakan fundamentalis akan semakin kuat...Dan perempan ikut berkontribusi dalam hal ini.


Dan akhirnya ada kebijakan untuk perempuan yang sangat merendahkan hak perempuan sendiri. Apalagi kelompok LGBTIQ. Contohnya yang paling gampang pada saat advokasi RUU Pornografi. Banyak para perempuan yang dijadikan "alat" oleh kelompok fundamentalis mendesak bahwa UU perlu cepat disyahkan.

Jika diluar negeri bahwa jumlah perempuan di Legislatif akan memberikan pengaruh positif terhadap perempuan. Itu juga disebabkan masyarakat yang lebih pluralis. Tetapi jika di Indonesia saya pikir tidak selalu sama dampaknya. Mungkin untuk beberapa hal akan mengalami perubahan yang lebih baik.
Tapi menurut ku tidak ada "jaminan" bahwa nasib perempuan dapat lebih baik untuk semua aspek apalagi bagi semua orang khususnya kelompok LGBTIQ.



Salam



Toyo
Kalibata, 19 Januari 2009

Read more...

Sebenarnya gue ini gay,bisex,atau straight sih??

Pengalaman ini saya ambil dari web komunitas gay; www.bozforum.com dengan inisial ID woi89

Please bgt..gue mau minta tolong...
gue udah bingung banget ngadepin ini dan gue gak tahu mau sama siapa lagi gue cerita..

Kira - kira gue bisa normal/straight lagi atau kagak yah??

ceritanya gini...
Dulu gue waktu kecil, gak pernah ngerasa suka atau terangsang dengan cowok... malah gue terangsang sama cewek.. Dulu seingat gue, gue paling seneng liat cewek berdada besar (kayak Pamela Anderson atau Debra di game WWF smack down) dan seingat gue dulu waktu zaman SD kalau onani, yang gue bayangin cewek - cewek sexy semua.. dan seingat gue, dari SD sampe SMP gue naksirnya sama temen2 cewek.. Kemudian pas SMP gue juga pernah pacaran sama cewek. Dulu gue kalau liat cowok cakep, pikiran gue bukan naksir,tapi iri sama mukanya dan pengen punya wajah seperti itu

Nah..orientasi gue mulai berubah ketika pertama kali lihat VCD porno sewaktu SMP yang cerita dalam film itu ceweknya di perkosa ... Nah di film itu ceweknya kasihan banget.. gue bukannya malah terangsang, tapi jadi sedih lihat tuh cewek.. vaginanya sampai koyak di film itu..

Sejak itu gue jadi ilfil kalau onani bayangin adegan ML (making Love) sama cewek.. Karena pikiran gue pasti selalu inget sama tuh cewek yang ada di film.. Jadinya kalau onani gue cuma bayangin gue cium - cium gitu sama cewek sexy.. Sampai kelas 2 SMP, gue masih suka dengan cewek secara seksual..

Orientasi seksual gue bener - bener berubah ketika gue download video ML yang ternyata adegan buat kaum bisexsual (suka dengan dua jenis kelamin, laki - laki dan perempuan).
Nah..gue downloadnya padahal gak sengaja karena gue pikir itu buat straight. Entah kenapa gue jadi tertarik di video itu pas adegan si cowok ML juga sama cowok lain di video itu..

Sejak itu khayalan gue pas onani jadi berubah.. yang dulunya takut ngayalin adegan ML sama cewek jadi selalu adegan biseks yang gue khayalin... Lama - lama gue ngayalnya lebih ke adegan ML sama cowok dibanding ceweknya.. Nah...belakangan gue ngayalnya bukan adegan biseksual tapi "pure" adegan gay (laki - laki yang suka dengan laki - laki secara seksual).
Terus lama - lama gue juga sudah jarang buka situs porno straight,tapi lebih sering situs gay serta perasaaan gue sama cewek juga perlahan - lahan hilang.

Nah..karena gue ngayalnya lebih sering cowok jadinya belakangan gue kalau liat cowok cakep dan macho gitu bukannya malah iri, tapi cenderung naksir dan ngayal gimana kalau ML sama tuh cowok...

Sampai sekarang gue cenderung tertarik sama cowok..Dan gue gak pernah bisa terangsang lagi kalau liat cewek telanjang.. Palingan gue bisa terangsang dan ereksi kalau ngayal gue mesra2an (cium2an dan pegang2an) sama cewek,.. Emang sih gue gak pernah ML sama cewek maupun cowok.. tapi kalau tertarik, gue jadinya lebih tertarik ML sama cowok sekarang...

gue pernah suka sama cowok,terus gue pedekate...
tapi terakhirnya gue ngerasa,gue suka sama tuh cowok bukan karena perasaan, tapi karena badannya ajah yang kekar (jadinya lebih cenderung mikir ke sex nya daripada relationshipnya)..
jadinya gue gak jadi nembak tuh cowok...

Gue pernah ditawarin ML sama cowok,tapi kagak pernah jadi ML karena selalui saja ada keraguan dari diri gue buat ML sama cowok.. Tapi tetap aja keinginan gue ML sama cowok itu masih kuat... Lagian entah kenapa, gue gak pernah naksir cowok untuk ngeliat dia dari sisi hatinya tapi cenderung ke wajah dan bodinya... Terus gue gak pernah berniat untuk pacaran atau membina relationship apalagi menikah dengan cowok.. pikiran gue pasti ke sex aja..

Tapi kalau melihat cewek ( selama gue pernah pacaran sama cewek).. gue cenderung bukan melihat dari sex tapi dari hatinya dan nyaman gue sama tuh cewek... Dan pikiran gue buat nikah sama cewek sangat besar..
Tapi gimana mau nikah sama cewek sekarang wong bayangin cewek telanjang saja gue kagak terangsang apalagi ML sama cewek??

Menurut teman - teman, gue kok bisa berubah? Kira -kira ada yang pernah mengalami pengalaman kayak gue tidak?? Emang dulu waktu SD gue pernah dilecehkan secara seksual sama cowok.. Jadi gue pernah mandi bareng sama kakak sepupu cowok.. nah dia maksa supaya dia boleh ngelus - ngelus penis gue.. Awalnya gue berontak tapi lantaran dia lebih besar dan kuat, akhirnya bisa juga dia ngeremas - ngeremas dan jilat penis gue,walaupun gue gak mau.. Kira - kira karena itu atau tidak makanya gue jadi berubah menjai gay kayak gini??

Buat temen2 please banget..bantuin gue gimana ngatasin permasalahan gue..
Sebenarnya gue ini gay,bisex,atau straight sih??
Jujur kalau boleh milih...gue lebih suka kayak dulu.. gue lebih suka diri gue yang suka cewek karena agama gue melarang keras kaum gay (no offense buat temen2 gay...gue gak maksud nyinggung lo..)

Temen2 yang gay,udah pernah gak konsultasi buat berubah jadi straight??
kira2 terapi apa yang dikasih supaya kita berubah jadi straight??

Gue malu ke psikolog karena takut keluarga dan temen2 gue tahu klo gue suka sama cowok...
Sampai sekarang gue belum coming out dan gak ada satupun orang yang tahu kalau gue gay..(untungnya perawakan dan gaya gue gak ngondek(feminin) jadi gak ada satupun yang nyadar kalau gue gay..) Palingan temen2 gue aja yg sering nanya,kenapa gue selalu nolak cewek yg pedekate ke gue dan kenapa gue gak pernah mau pacaran lagi...

Please bgt..bantuin gue..

Masukan Toyo:

Pertama saya ingin sampaikan apakah anda gay atau tidak saya pikir anda sendiri yang tahu. Walau dari cerita mu sekarang lebih suka dengan cowok daripada perempuan. Untyk itu ada beberapa yang ingin saya sampaikan:

1. Seksualitas itu adalah cair, artinya orientasi seksual seseorang dapat berubah - ubah. Tergantung ruang dan waktunya. Walaupun sebagian ilmuwan mengatakan bahwa seksualitas dipengaruhi secara biologis. Tetapi sebagian ilmuwan (terutama kalangan feminis) mengatakan bahwa seksualitas itu dapat dipengaruhi oleh banyak hal. Baik karena biologis, psikologi, sosial, budaya, tafsir agama ataupun politik. Sehingga banyak aspek seksualitas seseorang tersebut. Termasuk soal orientasi seksualnya.

Kalau dari konteks kasus mu, apakah memang kamu secara genetis adalah homoseksual? Itu masih perlu ada uji yang lebih dalam. Tetapi saya tidak tahu apakah ada tes uji secara biologis seseorang secara genetis itu homoseksual ataupun tidak. Bisa juga orientasi seksual mu berubah karena pengalaman yang kamu cerita kan tadi. Mulai dari masa kecil sampai sekarang. Menurut ku untuk soal penyebab jangan terlalu diambil pusing karena akan sulit untuk menemukan jawabannya.

2. Memilih untuk menjadi heteroseksual memang itu bukan hal yang salah. Karena itu hak sepenuhnya setiap orang termasuk kamu.
Hanya aku ingin sampaikan bahwa kamu lah yang tahu mana yang terbaik untuk diri mu sendiri. Termasuk soal orientasi seksualmu. Dalam konteks ini, sebenarnya menunjukkan bahwa masih banyak orang menempatkan homoseksual sesuatu yang buruk dan hina dibandingkan heteroseksual.

Seperti yang kamu sampaikan di atas bahwa homoseksual adalah dosa. Karena itu lah rasa marah dan bingung terus menghantui diri mu sendiri. Tapi situasinya akan akan berbeda kalau sekarang kamu lebih suka dengan perempuan. Ini menunjukkan bahwa dalam pikiran banyak orang heteroseksual sangat agung dimata masyarakat, budaya dan agama bahkan diri mu sendiri.

3. Sekarang bagaimana melihat persoalan homoseksual bukan hanya persoalan sex saja. Bahwa hubungan homoseksual juga bisa dibangun dengan rasa sayang dan kasih. Tanpa harus berpikir hal - hal yang berkaitan dengan ML saja. Pikiran mu masih terjebak persoalan itu. Sehingga kalau melihat persoalan gay = ML. Tetapi tidak demikian untuk heteroseksual. Saya paham bahwa pikiran mu itu menyangkut soal heteronormatifitas. Bahwa yang normal itu adalah heteroseksual. Yang layak punya kasih sayang dan rasa cinta itu hanya hubungan heteroseksual. Padahal banyak sekali hubungan homoseksual yang dapat membangun rumah tangga bertahun - tahun tanpa hanya berpikir ML saja.

4. Soal kamu akan berubah, aku pikir itu bisa dilakukan. Semua tergantung diri kamu sendiri. Kalau saya tetap semua atas pilihan diri mu sendiri. Tapi masalah nya kamu mesti jujur menentukan pilihan tersebut. Jangan hanya ingin kembali menjadi heteroseksual karena atas dasar bahwa homseksual itu buruk dalam pikiran mu. Karena kalau itu dasarnya akan menjadi persoalan lagi. Kamu bisa saja menjadi heteroseksual dan menikah dengan cewek tetapi rasa suka mu dengan cowok tetap masih ada. Dan tidak menutup kemungkinan rasa itu terus akan menghantui diri mu selamanya. Pengalaman ini banyak terjadi oleh gay - gay yang memutuskan menikah. Walau dengan berbagai alasan.

Saran aku memang kalau mau berubah, coba tempatkan bahwa homoseksual dan heteroseksual dalam posisi yang sama. Pandang bahwa orientasi seksual mana pun baik dan normal.
Kemudian setiap orang bebas memilih mana yang terbaik buat dirinya sendiri. Dengan segala konsekuensinya.
Tapi memilihnya harus benar - benar jujur atas pilihan yang sadar. Jangan karena embel - embel lain, apalagi istilah dosa. Makanya untuk sampai pada pilihan itu, pelajari dan banyak baca soal informasi tentang seksualitas khususnya orientasi seksual.


Saya tidak akan membuat kamu jadi homoseksual, heteroseksual ataupun biseksual. Tapi aku akan bantu kamu agar dapat memilih mana yang terbaik buat diri mu.

Salam

Toyo

Kalibata, 19 Januari 2009

Read more...